SOLAT TAUBAT NASUHA


 

solat taubat nasuhaSolat Sunat Taubat dilakukan selepas seseorang itu melakukan dosa dan kesalahan atau perlanggaran hukum-hukum agama atau berasa dirinya bersalah dan berdosa kepada Allah SWT. kemudian menyesali atas perbuatan itu dan ingin kembali semula ke jalan Allah (bertaubat).

Rasulullah SAW. telah bersabda: “Sesiapa yang pernah melakukan perbuatan dosa, bersegeralah berwuduk kemudian dirikan solat dan mohonlah keampunan kepada Allah SWT., Allah pasti akan menerima permohonannya itu. Kemudian bacalah ayat ini:

“Mereka yang pernah mengerjakan perbuatan dosa atau telah berbuat dosa terhadap dirinya sendiri lalu mereka bersegera mengingati Allah dengan memohon keampunan Ilahi terhadap dosa yang dilakukan itu. Siapakah yang akan mengampuni segala dosa, selain Allah? Kemudian itu mereka berasa insaf dan sedar serta tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, maka mereka akan diberi pahala dan ganjaran syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan disitulah tempat mereka selamanya.”  (HR Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah dan Baihaqi.)

Solat Taubat boleh dilakukan dua, empat atau enam rakaat pada bila-bila masa yang dikehendaki, tetapi lebih afdal pada waktu tengah malam dimana suasananya lebih sunyi dan tenang.

Fadhilat Taubat:

1. Diampunkan Allah SWT.

2. Dimudahkan segala urusan.

3. Menceriakan kehidupan seharian.

4. Menghilangkan perasaan yang menekan.

5. Mencegah dosa dan menghindari gangguan.

CARA SOLAT TAUBAT

1.  Niat Solat Sunat Taubat:

niat-solat-sunat-taubat-rumi-1

2.  Bacaan surah selepas Al-Fatihah:

Rakaat pertama:   Surah Al-Kafirun

Rakaat kedua:   Surah Al-Ikhlas

3.  Semasa  sujud terakhir pada rakaat kedua (sebelum duduk Tahiyyat Akhir) iaitu selepas membaca tasbih biasa, bacalah Tasbih berikut 40 kali:

tasbih-sujud-taubat-sq

“Laa-i-la-ha il-la an-ta sub-haa-na-ka in-niy kun-tu mi-naz-zhoo li-miyn.”

Tiada Tuhan melainkan Dikau (Allah)! Maha Suci Dikau! Sesungguhnya daku ini termasuk daripada golongan orang yang aniaya (zalim).

4.  Setelah memberi salam hendaklah memperbanyakkan beristighfar :

a. Bacalah istighfar berikut sebanyak 10 / 100 kali;

istighfar-a-sq

“As-tagh-fi-rul-Laa-hil ‘A-ziym, al-la-dziy laa i-la-ha il-laa hu-wal hai-yul qoi-yuum wa-a-tuu-bu i-laih.”

Daku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup Lagi Maha Mengurus dan daku bertaubat kepada-Nya.

b.  Sambung baca Istighfar Tauhid berikut sebanyak 10 / 100 kali;

istighfar-b-sq

“As-tagh-fi-rul-Laa-hil ‘A-ziym, al-la-zii laa i-la-ha il-laa hu-wal hai-yul qoi-yuum wa-a-tuu-bu i-laih. Tau-ba-ta ‘Ab-di zhoo-li-mi laa yam-li-ku li-naf-si-hi dhor-raa, wa-laa naf-‘an wa-laa mau-tan wa-laa ha-yaa-tan wa-laa nu-syuu-raa.”

Daku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup Lagi Maha Mengurus! Daku bertaubat kepada-Nya selaku taubatnya seorang hamba yang banyak dosa yang tiada menguasai akan dirinya dan tidak mampu membuat, menolak mudharat dan manfaat serta tidak dapat menguasai kematian, hidup dan kebangkitan.

c.  Kemudian bacalah Penghulu Istighfar sebanyak 3 Kali :

penghulu-istighfar-crop

“AL-Laa-Hum-ma an-ta rab-bi Laa i-la-ha il-laa an-ta kho-laq-ta-ni wa-a-naa ‘ab-du-ka wa-a-naa ‘a-laa ‘ah-di-ka wa-wa’-di-ka mas-ta-th0′-tu, a-‘uu-dzu-bi-ka min syar-ri-maa sha-na’-tu, a-buu u-la-ka bi-ni’-ma-ti-ka ‘a-lay-ya wa-a-bu-u bi-dzan-bi fagh-fir-lii, fa-in-na-hu laa yagh-fi-rudz dzu-nuu-ba il-laa an-ta.”

Ya Allah! Dikaulah Tuhanku, Tiada Tuhan melainkan Dikau; Dikau yang menciptakan daku dan daku adalah hamba-Mu. Dan sedaya mampuku, daku berpegang dengan janji dan sumpah setiaku terhadap-Mu. Daku memohon perlindungan-Mu daripada segala kejahatan yang telah dilakukan; Daku mengakui akan segala nikmat yang Dikau berikan kepadaku dan daku mengakui akan dosa-dosaku. Maka ampunilah daku kerana tiada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Dikau.

5.  Baca Doa Taubat

doa-solat-sunat-taubat-sq-a

Daku memohon ampun kepada Allah, Daku mohon ampun kepada Allah, Daku mohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup Lagi Maha Mengurus!

Daku bertaubat kepada-Nya selaku taubatnya seorang hamba yang banyak dosa yang tidak berdaya untuk menolak mudharat atau berbuat manfaat dan tidak mampu mematikan atau menghidupkan mahupun membangkitkan (di Padang Mahsyar kelak).

Daku mohon perlindungan-Mu daripada dosa, kemalasan, dugaan kubur dan seksanya. Daku mohon perlindungan-Mu daripada segala kesalahan dan hukuman.

Ya Allah! Bersihkanlah diriku daripada dosa-dosa sebagaimana kain putih dibersihkan daripada kekotoran. Ya Allah! Sesungguhnya daku bertaubat kepada-Mu di atas segala dosaku, dan daku berjanji tidak akan mengulanginya.

Ya Allah! Pengampunan-Mu adalah lebih luas daripada dosa-dosaku dan pengampunan-Mu terhadapku adalah lebih tertunai daripada amalan baikku. Ya Allah! Sesungguhnya daku telah banyak sekali menganiaya diriku sendiri, tiada yang dapat mengampuni dosaku itu kecuali Dikau; Maka berikanlah daku keampunan-Mu, kasihanilah daku. 

Ya Allah, Ya Tuhanku! Terimalah taubatku, suci bersihkanlah segala dosaku dan kabulkanlah permohonanku. Sesungguhnya Dikau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!

SUMBERshafiqolbu.wordpress.com

SUJUD SAJADAH ATAU SUJUD TILAWAH


Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” [Ali ‘Imran: 102]

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa’: 1]

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab: 70-71]

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur-an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam (As-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

sujud sajadahSujud Sajadah/Tilawah, Tilawah artinya bacaan, dan Sujud Sajadah atau sujud Tilawah itu ialah perbuatan sujud apabila seseorang itu bertemu ayat sajadah dalam bacaan Al-Qur’an sama ada di dalam solat ataupun di luar solat.

Dari Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
Apabila anak Adam membaca ayat Sajadah, lalu dia sujud; maka syaitan jatuh sambil menangis. Katanya, “Celaka aku! Anak Adam disuruh sujud, maka dia sujud, lalu mendapat syurga. Aku disuruh sujud, tetapi aku menolak maka untukku neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Hukum sujud sajadah adalah sunat mu’akad, atau sunat yang amat digalakkan.

Dari Umar r.a.: Pada suatu hari Jumaat, dia (Rasulullah) membaca surah al-Nahl di atas mimbar, maka ketika sampai pada ayat sajadah, dia lalu turun dan sujud. Dan para hadirin juga turut melakukan sujud. Pada hari Jumaat berikutnya, dibacanya surah berkenaan, lalu apabila sampai pada ayat sajdah dia berkata: “Wahai manusia, sebenarnya kita tidak diperintahkan (diwajibkan) sujud tilawah. Tetapi barangsiapa bersujud, dia telah melakukan yang benar. Dan barangsiapa yang tidak melakukannya, maka dia tidak mendapat dosa.” (HR Bukhari)

Ayat-ayat sujud sajadah ialah:

1. Surah Al A’raf  7:206

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud. (Al A’raf 7:2006)

2. Surah  Ar Ra’du 13:15

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

3. Surah An Nahl 16:50

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).

4. Surah Al Israa’ 17:109

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu´.

5. Surah Maryam 19:58

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

6. Surah Al Hajj 22:18

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

7. Surah Al Hajj 22: 77

Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

8. Surah Al Furqaan 25:60

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

9. Surah  An Naml 27:26

Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ´Arsy yang besar”.

10. Surah As Sajdah 32:15

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

11. Surah Shaad 38:24

Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.

12. Surah Al Fushilat 41:38

Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.

13. Surah An Najm 53:62

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

14. Surah  Al Insyiqaq 84:21

dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,

15. Surah Al ‘Alaq 96:19

sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

Nota: Perlu dinyatakan bahawa bacaan Surah 38 (Shaad) Ayat 24 menurut Syafi’iyah dan Hanbaliyah tidak termasuk ayat sajadah, tapi ayat yang disunatkan untuk sujud syukur (keterangan sujud syukur akan menyusul selanjutnya). Bacaan surah 22 (Al-Hajj) Ayat 77 pula menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanbaliyah dimasukkan sebagai ayat sajadah.

Untuk mengenali ayat-ayat sajadah itu di dalam al-Qur’an, kebiasaannya pada ayat-ayat itu ada ditandakan garis atau simbol dengan tertulis perkataan sajadah.

Cara melakukan sujud sajadah di dalam solat ialah terus bersujud (tanpa niat, dan tanpa mengangkat tangan) sebaik sahaja selepas membaca ayat sajadah, kemudian membaca doa sujud sajadah di dalam sujud, lalu kembali berdiri dan meneruskan bacaan selanjutnya. Sekiranya bacaan surah itu telahpun tamat (ayat sajadah di pengakhir surah), apabila bangun dari sujud sajadah maka teruslah rukuk selepas berdiri sebentar .

Adalah sunat bertakbir “Allah-Akbar” sebelum turun dari qiam untuk melakukan sujud sajadah. Disunatkan juga agar bertakbir apabila naik dari sujud. Adalah tidak perlu mengangkat tangan ketika naik dari sujud.

Di dalam solat berjemaah, makmum wajib mengikuti imam sama ada imam itu melakukan sujud sajadah ataupun tidak. Bercanggah dari mengikuti imam akan menyebabkan solat makmum itu batal. Akan tetapi, adalah sunat hukumnya bagi makmum melakukan sujud tilawah selepas selesai salam dengan syarat jarak di antara sujud dan salam itu tidak lama.

Bagi sembahyang yang dibaca dengan suara perlahan, umpamanya solat Zuhur, sujud tilawah itu sunat dibuat oleh imam setelah dia selesai menunaikan sembahyang supaya tidak menimbulkan kekeliruan di kalangan makmum.

Rukun sujud sajadah di luar solat ialah:
1. Niat – iaitu “Sahaja aku sujud sajadah kerana Allah Ta’ala”
2. Takbiratul-ihram
3. Sujud
4. Salam.

Sujud sajadah di luar solat adalah disunatkan kepada pembaca dan juga pendengar bacaan ayat sajadah, dan sujud si pendengar itu tidak tergantung sama ada pembaca (qari) itu turut sujud atau tidak.

Syarat sah sujud sajadah di luar solat adalah sama seperti syarat solat (suci dari hadas besar dan kecil, mengadap kiblat, menutup aurat, dan sebagainya), dan tidak berjangka waktu yang lama antara bacaan ayat sajadah dan perbuatan sujud.

Sekiranya seseorang itu mendengar bacaan ayat sajadah dan tidak berupaya untuk sujud sajadah (umpamanya sedang memandu), maka bolehlah ditangguhkan sujud sajadah itu hingga ketika dia boleh, asalkan tidak terlampau lama masa yang terluput di antaranya.

Tidak perlu berwuduk untuk sujud sajadah ketika di luar solat, namun berwuduk itu adalah lebih afdal.

Apabila hendak sujud sajadah di luar solat, disunatkan bertakbir “Allahu-Akbar” (selepas daripada Takbiratul-ihram) dan disunatkan juga bertakbir apabila bangun dari sujud sebelum salam.

Adalah tidak perlu untuk seseorang itu bangun untuk berdiri (qiam) apabila hendak melakukan sujud sajadah di luar solat. Namun begitu, apabila seseorang itu sedang berdiri, maka perlulah dia bertakbiratul-ihram di kala qiam, kemudian sujud, duduk, dan salam.

Nota sampingan:
Sujud Syukur, Sujud Syukur adalah perbuatan sujud ketika seseorang mendapat limpahan rahmat daripada Allah, atau terhindar daripada malapetaka.

Hukum sujud syukur adalah sunat, dan hanya dilakukan di luar solat. Sekiranya seseorang itu melakukan sujud syukur di dalam solat, maka batallah solatnya.  Cara sujud syukur dan syarat sujud syukur adalah sama seperti sujud sajadah di luar solat.  Di samping melaksanakan sujud syukur, disunatkan juga bersedekah dan melakukan sembahyang sunat syukur.

Sumber: Diperolehi dari beberapa sumber.

SOLAT JENAZAH


solat-jenazah

MUKADIMAH

Setiap yang bernyawa di dunia ini pastinya akan mati, begitu juga dengan manusia sepertimana firman Allah S.W.T dalam Surah Ali-‘Imran ayat 185 :

1

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati .”

2

Oleh itu, apabila datang kematian kepada seseorang hamba Allah ,maka orang lain yang hidup adalah kewajipan untuk menguruskan jenazah tersebut sebagai amalan yang dituntut dalam Islam .Hukum menyelenggarakan jenazah adalah fardu kifayah iaitu amalan yang tidak diwajibkan ke atas setiap individu muslim bahkan memadai dilakukan oleh sebahagian daripada mereka.

Rasulullah S.A.W. pernah bersabda yang bermaksud :

“Sembahyanglah kamu ke atas orang-orang yang telah mati.”
(Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Terdapat beberapa perkara yang harus dilakukan oleh manusia lain dalam menguruskan jenazah seperti memandikan ,mengkhafankan,menyembahyangkan dan seterusnya mengebumikan .

Di dalam buku risalah kecil ini, akan diterangkan cara-cara menyembahyangkan jenazah dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya.

ORANG YANG HAMPIR MATI

Orang yang sakit ,yang hampir menghembuskan nafasnya yang akhir ,hendaklah dihadapkan ke kiblat,dibaringkan di atas lambungan yang kanan,muka dan dadanya dihadapkan ke kiblat ,kalau tidak boleh hendaklah ditelentangkan dan dua tapak kakinya dihalakan ke kiblat
Hendaklah diajar mengucap kalimah tauhid (dengan tidak bertubi-tubi), tetapi jika ia berkata dengan kalimah (perkataan) yang lain, hendaklah diajar balik dengan kalimah tauhid.
Dibacakan Surah Yaasiin() dan surah Ar-Ra’du ().
PERKARA YANG DILAKUKAN SESUDAH MATI

Apabila telah mati (yakin matinya) , hendaklah ditutup matanya , diikat dagunya supaya jangan terbuka mulutnya ,dilembutkan sendi-sendinya dengan minyak,ditutup seluruh badanya dengan kain dan diletakkan ditempat yang tinggi ,umpamanya diatas katil ,dan diletakkan diatas perutnya benda-benda yang berat ( lebih kurang 1 paun).
Ahli-ahli keluarga mayat itu hendaklah berikhitar membayar hutangnya daripada harta peninggalannyaatau daripada pertolongan ahli-ahli keluarga mayat itu atau seseorang waris atau orang lain membut pengakuan (berikrar) membayar akan hutangnya .
Hendaklah disebutnya membayar akan hutangnya.
Hendaklah disebutkan kebaikkan dan medoakan keampunan baginya.
KEWAJIPAN-KEWAJIPAN YANG
BERHUBUNG DENGAN MAYAT

Apabila mati seseorang Islam , maka wajiblah di atas orang-orang yang hidup sebagai fardu kifayah menyelenggarakan empat perkara ke atasnya (mayat):

Memandikan
Mengkhafankan
Menyembahyangkan
Mengkebumikan
Peringatan :

Semua perbelanjaan mengururskan mayat ini ialah daripada harta peninggalannya (si mati) kecuali isteri, maka wajib atas suaminya,anak kecil wajib atas bapanya ,sekiranya tidak ada ,maka tertanggunglah ke atas orang islam yang kaya .

TUJUAN MENYEMBAHYANGKAN JENAZAH

Sembahyang jenazah diadakan antara lain adalah untuk memohon keampunan serta limpahan rahmat Allah S.W.T bagi si mati dan mengharapkan suci dari dosa.

Manusia sebagaimana diketahui memang tidak sunyi dari melakukan kesilapan dan kesalahan .Allah sentiasa memberikan peluang kepada hamba-hambanya untuk bertaubat. Dengan mengadakan sembahyang jenazah orang yang hidup diberi peluang untuk memohon keampunan dan kerahmatan daripada Allah untuk si mati. Sembahyang jenazah juga adalah sebagai satu cara memberi penghormatan yang sopan kepada mayat.

Hukum mendirikan solat jenazah adalah fardu kifayah.Justeru itu,Islam menganjurkan supaya didirikan sembahyang jenazah dengan jumlah yang ramai itu lebih baik dan afdhal.

RUKUN SEMBAHYANG JENAZAH

Niat
Berdiri jika berkuasa
Takbir empat kali termasuk takbiiratul ihram
Membaca surah al-Fatihah
Membaca selawat ke atas nabi
Mendoakan mayat
Memberi salam
Nota :

Boleh membaca mana-mana selawat,seelok-eloknya membaca selawat Ibrahimiah.
Doa bagi mayat boleh dibaca mana-mana satu doa dengan syarat ditakhsiskan (ditentukan) bagi mayat lelaki,perempuan atau kanak-kanak.
SYARAT-SYARAT SEMBAHYANG JENAZAH

Suci daripada hadas besar dan hadas kecil
Menutup aurat dan menghadap kiblat
Mayat sudah dimandikan dan dikafankan
Mayat diletakkan di hadapan kecuali mayat ghaib
Mayat diletakkan dekat dengan orang sembahyang lebih kurang tiga kaki
Mayat hendaklah muslim
Matinya tidak kerana perang fisabilillah5
PERKARA-PERKARA SUNAT BAGI SEMBAHYANG JENAZAH

Mengangkat kedua tangan semasa mengucapkan empat takbir
Merendahkan suara dalam sembahyang
Membaca

Berjamaah sekurang-kurangnya tiga saf,setiap satu saf sekurang-kurangnya dua orang.
Nota:

Yang lebih utama menyembahyangkan jenazah itu ialah walinya,iaitu bapanya kemudian datuknya dan ke atas kemudian anaknya,cucu-cucunya dan seterusnya ke bawah, kemudian saudara lelakinya seibu sebapa ,kemudian saudara lelaki sebapa.Kemudian anak saudara seibu sebapa ,kemudian Asabah mengikut tertib, pusakanya dan kemudian zawil arham,jika didapati sama keadaan martabat mereka maka didahulukan yang lebih tua .Dan jika tidak terdapat kerabat-kerabat yang di atas maka didahulukan orang yang lebih faqih dan tua.

CARA -CARA SEMBAHYANG JENAZAH

Letakkan mayat di hadapan imam
Mayat hendaklah diletakkan melintang kiblat
Mayat lelaki bahagian kepala sebelah kiri imam dan imam berdiri setentang di antara kepala dengan badan ke arah kiblat
Mayat perempuan bahagian kepala jenazah di sebelah kanan imam bahagian badan menghala ke kiri. Imam berdiri menghala arah kiblat
Mayat di dalam keranda apabila hendaklah disembahyangkan hendaklah dibuka tudungnya
PANDUAN SEMBAHYANG JENAZAH

Berdiri (Bagi yang berupaya)
Niat
Takbiratu Ihram
Selepas Takbir Pertama :
Membaca Al-Fatihah

3
Selepas Takbir Kedua :
Membaca Selawat Atas Nabi

4
Selepas Takbir Ketiga :
Membaca Doa

5

Jika jenazah kanak-kanak, bacakan doa ini:

6
Selepas Takbir Keempat :
Memberi Salam

7
LAFAZ-LAFAZ NIAT, SELAWAT DAN DOA-DOA

LAFAZ-LAFAZ NIAT
i) Lafaz Niat : Jenazah lelaki dewasa (hadir)
8
(Sahaja aku sembahyang ke atas mayat ini empat kali takbir imaman/makmuman kerana Allah Ta’ala)

ii) Lafaz Niat : Jenazah perempuan dewasa (hadir)
8

(Sahaja aku sembahyang ke atas perempuan ini empat kali takbir imaman/makmuman kerana allah Ta’ala)

iii) Lafaz Niat : Jenazah kanak-kanak lelaki (hadir)
10

(Sahaja aku sembahyang ke atas mayat kanak-kanak lelaki ini empat kali takbir imaman/makmuman kerana Allah Ta’ala)

iv) Lafaz Niat : Jenazah kanak-kanak perempuan (hadir)
11

(Sahaja aku sembahyang ke atas mayat kanak-kanak perempuan ini empat kali takbir imaman/makmuman kerana Allah Ta’ala)

 

SOLAT SUNAT WUDUK


Adalah disunatkan bagi seseorang yang telah mengambil wuduk untuk bersolat sebanyak dua rakaat.

DALIL KEUTAMAANNYA

Ternyata solat sunat setelah wuduk itu memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana yang termaktub di dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Mengerjakannya Akan Dimasukkan Ke Syurga

Bagi mereka yang telah menyempurnakan wuduknya lalu mengerjakan solat sunat dua rakaat dengan penuh khusyuk kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan dimasukkan ke syurga.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata: Kami perah bertugas menggembala unta. Saat tiba giliranku, aku merehatkan gembalaanku. Setelah itu, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri tengah berbicara dengan orang-orang. Akupun mendengar sebahagian dari perkataan baginda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ.

Maksudnya:

Tidaklah seorang Muslim berwuduk dengan sebaik-baiknya kemudian mengerjakan solat dua rakaat dengan menghadirkan hati dan menghadapkan wajahnya, melainkan telah wajib baginya syurga

Dia (‘Uqbah) bercerita lagi: Lalu aku katakan ini benar-benar sangat baik. Tiba-tiba ada seseorang berkata di hadapanku: Yang sebelumnya malah lebih baik lagi. Maka aku melihat, ternyata orang itu adalah ‘Umar. Dia berkata: Sesungguhnya aku telah melihatmu tadi datang.

Baginda bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُإِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ.

Maksudnya:

Tidaklah salah seorang di antara kalian berwuduk lalu menyempurnakan wuduknya kemudian mengucapkan: Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, melainkan akan dibukakan baginya lapan pintu-pintu syurga. Dia boleh masuk mengikuti mana-mana sahaja (pintu) yang dikehendakinya. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab al-Thohaarah, no: 234.

Diampunkan Dosa-Dosa Lampau

Barangsiapa yang berwuduk menurut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengerjakan solat sunat dua rakaat maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu. Menurut Humran pembantu ‘Uthman, ‘Uthman pernah menceritakan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Maksudnya:

Barangsiapa berwuduk seperti wudukku ini lalu mengerjakan solat dua rakaat, yang pada solatnya dia tidak berbicara pada dirinya sendiri (yakni mengerjakannya dengan khusyuk) nescaya Allah akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang lampau. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Wudhu’, no: 159.

RINGKASAN TATACARA MENGERJAKAN SOLAT WUDUK

Rakaat Pertama

1) Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Wuduk

2) Takbiratul Ihram

3) Doa Iftitah

4) Membaca surah al-Fatihah

5) Membaca Surah al-Qur’an

6) Rukuk

7) Iktidal

8) Sujud

9) Duduk antara dua sujud

10) Sujud kali kedua

11) Bangun untuk rakaat kedua

Rakaat Kedua

1) Ulang seperti rakaat pada pertama dari nombor (4) hingga (10)

2) Duduk untuk tahiyyat akhir

3) Memberi salam ke kanan dan ke kiri

___________________________________________

Ada kisah Bilal bin Rabah r.a. Dalam hadis riwayat al-Bukhari 4/428 [no 1149]dan Muslim 16/141 [no 6478] :

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِى حَيَّانَ عَنْ أَبِى زُرْعَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ « يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِى بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى الإِسْلاَمِ ، فَإِنِّى سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَىَّ فِى الْجَنَّةِ » . قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِى أَنِّى لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُورًا فِى سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِى أَنْ أُصَلِّىَ . قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ دَفَّ نَعْلَيْكَ يَعْنِى تَحْرِيكَ

Maksudnya :

Rasulullah s.a.w bersabda kepada Bilal ketika solat Subuh : Wahai Bilal, ceritakan kepadaku dengan amalan paling baik engkau lakukan disisimu dalam Islam, Sesungguhnya aku mendengar bunyi hentakan seliparmu di hadapanku dalam Syurga. Jawab Bilal: Aku tidak melakukan sebarang amalan yang paling aku harapkan disisiku, aku tidak bersuci (berwuduk) pada satu-satu masa waktu malam atau siang melainkan aku akan solat dengan wuduk tersebut, dengan apa yang tidak diwajibkan bagiku untuk solat.

Manakala tentang solat sunat wuduk, ia bukan solat sunat qabliah. Solat sunat wuduk adalah merupakan solat sunat lain. Ia disunatkan selepas seseorang mengambil wuduk.

Dalam hal ini al-Nawawi ada menjelaskan :

ثم أفضل الصلوات بعد الرواتب والتراويح الضحى ثم ما يتعلق بفعل كركعتي الطواف إذا لم نوجبهما وركعتي الاحرام وتحية المسجد ثم سنة الوضوء

Maksudnya :

Kemudian yang solat paling afdal selepas sunat rawatib [sunat qabliah atau ba’diyah], dan tarawih ialah solat duha, kemudian apa yang berkaitan dengan sesuatu perbuatan seperti dua rakaat tawaf jika kita tidak berpendapat mewajibkannya, dua rakaat ihram, tahiyyat masjid dan kemudian sunat wuduk” [al-Majmuk jil.4, hlm. 26]

_____________________________
Sumber: hafizfirdaus.com, soalsolatumum.blogspot.com

SOLAT SUNAT RAWATIB


Solat Rawatib ialah solat yang mengiringi solat-solat fardhu sama ada sebelum atau selepas solat fardhu. Solat sunat Rawatib ini terbahagi kepada dua bahagian :

  • Sunat Rawatib yang “Muakkad”
  • Sunat Rawatib yang “Ghaira Muakkad”.

Disamping itu Sunat Rawatib juga terbahagi kepada 2 kategori :

  • Qabliah (sebelum Solat Fardhu)
  • Ba’diah (selepas Solat Fardhu)

Sunat Rawatib yang “Muakkad” adalah 10 rakaat seperti berikut :

  1. 2 Rakaat sebelum Solat Subuh
  2. 2 Rakaat sebelum Solat Zohor.
  3. 2 Rakaat selepas Solat Zohor.
  4. 2 Rakaat selepas Solat Maghrib.
  5. 2 Rakaat selepas Isyak.

Sunat Rawatib yang “Ghaira Muakkad” pula adalah 12 rakaat seperti berikut :

  1. 2 Rakaat sebelum Solat Zohor
  2. 2 Rakaat selepas Solat Zohor.
  3. 4 Rakaat sebelum Solat Asar.
  4. 2 Rakaat sebelum Solat Maghrib.
  5. 2 Rakaat sebelum Isyak.

DALIL TENTANG SUNAT MELAKUKAN SOLAT INI.

Sabda Rasulullah s.a.w :

عن عبد الله بن عمر قال حفظت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين قبل الظهر وركعتين بعد المغرب وركعتين بعد العشاء وركعتين قبل الغداة  – (متفق عليه)

Maksudnya: Dari Abdullah bin Umar, katanya, “Saya mengingati (lafaz) dari Rasulullah s.a.w dua rakaat sebelum Zohor, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isyak, dan dua rakaat sebelum Subuh.”  – (Muttafaq alaih)

NIAT SOLAT RAWATIB

  1. Sekiranya sebelum solat Fardhu di sebut: قَبْلِيَّةً
  2. Sekiranya selepas solat Fardhu di sebut: بَعْدِيَّةً

Oleh yang demikian niatnya adalah seperti berikut :

أُصَلِّي سُنَّةَ ( الظُّهْرِ / العَصْرِ / المَغْرِبِ / العِشَاءِ / الصبح ) رَكْعَتَيْنِ (قَبْلِيَّةً / بَعْدِيَّةً ) لِلَّهِ تَعَالَى

Maksudnya : Sahaja aku menunaikan solat sunat (Zohor / Asar / Isyak / Subuh) dua rakaat (Sebelum / Selepas) kerana Allah Taala.

Sumber: http://www.e-mosque.com.my/ibadatsunat/srawatib.html

______________________________________

Pembahasan Solat Sunat Rawatib

Tanya:
Assalaamualaykum warohmatullahi wabarokatuh. Saya baru belajar mendalami agama Allah yg sebenarnya, yg mengikut al-Qur’an dan hadist dan sunnah para sahabat dan imam. Ada yang ingin saya tanyakan? Masalah solat sunat dalam menjalankan solat lima waktu. Ada yg boleh dikerjakan dan tidak. Maksudnya solat sunat yang boleh dikerjakan waktu mengerjakan solat wajib lima waktu: Yang mana boleh di kerjakan dan mana yang tidak? Tolong diberi penjelasannya … Fauzan <fauzan@gmail.com>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Mungkin yang anda maksud adalah solat sunat rawatib (yang berada sebelum dan setelah solat wajib). Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah solat sunat rawatib beserta letak-letaknya:

1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Tidaklah seorang muslim mendirikan solat sunat ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain solat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan solat sunat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh. (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa solat sunat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum solat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah solat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah solat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum solat subuh. (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua rakaat setelah jumat.”
Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada solat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi r mengerjakan solat sunatnya di rumah.”

3. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan solat (sunat) empat raka’at sebelum Ashar. (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa solat sunat rawatib adalah:

a. 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
b. 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.
c. 2 rakaat setelah zuhur
d. 4 rakaat sebelum ashar
e. 2 rakaat setelah jumat.
f. 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
g. 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

Soal: Apakah hukum solat sunat setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?

Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada solat (sunat). Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya. (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada solat sunat rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk solat sunat mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang solat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam. (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun solat sunat sebelum jumat, maka pendapat yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah mengenai tidak disyariatkannya solat sunat sebelum jumat akan datang pembahasannya tersendiri, wallahu Ta’ala a’lam.

__________________________

Sumber: http://al-atsariyyah.com/pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-rawatib.html

SOLAT (DOA SEBELUM MEMBERI SALAM)


Oleh: Ustaz Ahmad Adnan Fadzil (http://fiqh-am.blogspot.com)

Adakah disunatkan berdoa sebelum memberi salam?

Ya. Disunatkan berdoa –antaranya- dengan doa berikut;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung denganMu dari azab api neraka jahannam, dari azab kubur, dari fitnah/ujian ketika hidup dan mati dan dari kejahatan fitnah Dajjal”.

Dalam riwayat hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda; “Apabila seseorang kamu selesai dari membaca tasyahhud (yakni tahiyyat) akhir, maka mintalah perlindungan dengan Allah dari empat; dari azab neraka jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari kejahatan Dajjal”. (Riwayat Imam Muslim)

Selain doa di atas, doa lain yang pernah dibaca Nabi s.a.w. ialah;

اللَّهمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ.

Ya Allah. Kurniakanlah keampunan untukku terhadap apa sahaja (dosa) yang telah aku lakukan yang terdahulu dan juga yang terkemudian, yang aku sembunyikan dan yang aku nampakkan serta apa sahaja perbuatan sia-sia atau melampau yang telah aku lakukan di mana Engkaulah yang lebih tahu tentangnya dari diriku sendiri. Engkaulah Tuhan yang maha dahulu dan yang maha akhir. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau sahaja. (Riwayat Imam Muslim dari Saidina ‘Ali r.a.)

Artikel Lain: Doa Selepas Tasyahud Akhir Sebelum Salam

SOLAT (SUJUD)


Oleh: Ustaz Ahmad Adnan Fadzil (http://fiqh-am.blogspot.com)

Apa makna sujud? Apa hukumnya?

Sujud bermaksud meletakkan dahi di atas tempat sujud. Sujud adalah wajib di dalam solat. Tidak sah solat tanpa sujud. Sujud yang diwajibkan di dalam solat ialah dua kali pada setiap rakaat dengan diselangi oleh duduk. Dalil kewajipan sujud ini ialah sabda Nabi s.a.w. (tatkala mengajar seorang lelaki yang salah dalam melakukan solat);

….Kemudian hendaklah kamu sujud sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan sujud, kemudian kamu bangkitlah dari sujud sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan duduk, kemudian kamu sujud kembali sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan sujud…”. (Riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim).

Apakah anggota-anggota yang terlibat semasa sujud?

Sabda Nabi s.a.w.;

Aku diperintahkan supaya sujud di atas tujuh tulang (yakni tujuh anggota) iaitu; dahi –baginda menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan jari-jari dari dua kaki… (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a.).

Berdasarkan hadis ini, anggota sujud hendaklah merangkumi;

  1.  Dahi
  2.  Dua tangan
  3.  Dua lutut
  4.  Dua kaki

Ketika sujud, wajib ke semua tujuh anggota di atas diletakkan di atas lantai. Bagi dahi, memadai meletakkan sebahagian dahi sahaja di atas lantai. Bagi tangan yang dikira ialah tapak tangan dan bagi kaki pula ialah perut-perut anak jari kaki. Memadai dengan meletakkan sebahagian sahaja dari perut-perut anak jari kaki itu. Jika seseorang itu sujud di atas belakang tangan atau belakang anak-anak jari kakinya, tidak sah sujudnya.

Adakah hidung juga wajib diletakkan di atas lantai ketika sujud?

Terdapat khilaf di kalangan ulamak;

Pertama; menurut Imam Ahmad; dahi dan hidung wajib diletakkan di atas lantai ketika sujud. Tidak cukup hanya dahi sahaja atau hanya hidung sahaja. Beliau berdalilkan hadis di atas di mana Nabi turut menunjukkan kepada hidungnya tatkala menyebutkan tentang dahi sebagai salah satu angota sujud. Selain itu ia berdalilkan juga hadis dari Abu Humaid as-Sa’idi yang menceritakan;

Nabi tatkala sujud, baginda menekan hidung dan dahinya ke tanah, menjauhkan dua tangan dari rusuknya dan meletakkan dua tapak tangan setentang dua bahunya” (Riwayat Imam at-Tirmizi dan Abu Daud. Menurut at-Tirmizi; hadis ini hasan soheh).

Ibnu ‘Abbas r.a. menceritakan;Nabi telah melihat seorang lelaki menunaikan solat. Ia sujud tanpa meletakkan hidungnya di atas tanah. Lalu Nabi berkata kepadanya;

Letakkan hidungmu (ke tanah) supaya ia sujud bersamamu. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Akhbar Asbahan).

Kedua; menurut mazhab Syafi’ie dan Malik; yang wajib ialah meletakkan dahi sahaja. Adapun meletakkan hidung –di samping dahi- adalah sunat, tidak wajib. Sah sujud jika seseorang meletakkan dahinya sahaja di atas lantai tanpa meletakkan hidungnya. Bagi pandangan ini, hadis-hadis di atas menunjukkan kepada galakan, bukan kewajipan.

Ketiga; menurut Imam Abu Hanifah; boleh memilih sama ada hendak meletakkan dahi atau hidung di atas lantai. Bagi pandangan ini, isyarat Nabi kepada hidung tatkala menyebutkan dahi dalam hadis di atas ialah untuk menunjukkan keharusan memilih antara dahi atau hidung semasa sujud.

Adakah wajib semua anggota sujud di atas didedahkan (tanpa berlapik)?

Anggota-anggota sujud selain dahi telah sepakat para ulamak menyatakan tidak wajib didedahkan. Yang dituntut hanyalah meletakkannya di atas tanah/lantai. Oleh itu, harus seseorang menunaikan solat dengan memakai sarung tangan atau stokin. Adapun dahi, maka ia terdapat khilaf di kalangan ulamak;

Pertama; pandangan ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie; dahi wajib didedahkan dan mengenai secara lansung tempat sujud (tanpa ada penghadang). Tidak sah sujud jika semua bahagian dahi berlapik sehingga tidak ada sedikitpun darinya yang terdedah dan mengenai tempat sujud secara langsung. Termasuk tidak sah ialah lapik dari pakaian yang dipakai ketika solat.

Oleh demikian, tidak harus seseorang sujud di atas kain serban yang dipakainya atau di atas lengan bajunya atau di atas kain telekungnya atau benda-benda lain di badannya yang mengikuti pergerakan badannya.

Kedua; pandangan jumhur ulamak (termasuk Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad); dahi sama seperti anggota-anggota sujud yang lain iaitui tidak wajib didedahkan. Yang dituntut hanyalah meletakkannya di atas tempat sujud. Oleh itu, bagi jumhur ulamak, tidak menjadi kesalahan jika seseorang itu sujud di atas kain serbannya atau kain telekungnya.

Mereka berdalilkan hadis dari Anas bin Malik r.a. yang menceritakan;

Kami mengerjakan solat bersama Rasulullah s.a.w. ketika panas yang bersangatan. Apabila sesiapa dari kami tidak dapat meletakkan dahinya di atas tanah kerana panas, ia bentangkan pakaiannya dan sujud di atasnya”. (Riwayat Imam Muslim).

(Dalail al-Ahkam, 1/ 298-299).

Tatkala turun sujud, mana dulu yang perlu di letakkan di atas lantai; tangan atau lutut?

Perkara ini juga terdapat khilaf di kalangan ulamak;

Pertama; menurut jumhur ulamak (termasuk mazhab Imam Abu Hanifah, Syafi’ie dan Imam Ahmad); disunatkan turun sujud dengan mula meletakkan dua lutut, diikuti dua tangan dan akhirnya muka atau dahi. Ini berdasarkan hadis dari Wail bin Hujrin r.a. yang menceritakan;

Aku telah melihat Nabi apabila sujud, baginda meletakkan dua lututnya sebelum dua tangannya dan apabila bangkit dari sujud, baginda mengangkat dua tangannya (terlebih dahulu) sebelum dua lututnya. (Riwayat Imam Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Kedua; pandangan sebahagian ulamak (antaranya Imam Malik dan al-Auza’ie); sunat mendahulukan dua tangan dari dua lutut tatkala turun sujud. Ini berdalilkan sabda Nabi s.a.w.;

Jika seseorang dari kamu sujud, janganlah ia berteleku sebagaimana telekunya unta, sebaliknya hendaklah ia meletakkan dua tangannya terlebih dahulu sebelum dua lututnya. (Riwayat Abu Daud, at-Nasai dan Ahmad dari Abu Hurairah r.a.).

Begitu juga, berdalilkan hadis dari Nafi’ yang menceritakan bahawa Ibnu ‘Umar r.a. semasa sujud, beliau meletakkan dua tangannya sebelum dua lututnya. Kata beliau (yakni Ibnu ‘Umar);

Nabi telah melakukan sedemikian” (Riwayat Imam al-Hakim, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi dengan sanad yang soheh. Lihat; Zadul-Ma’ad, 1/228)

Bagaimana cara sujud yang sempurna?

1. Ketika hendak turun sujud, ucapkan takbir tanpa mengangkat tangan.

2. Ketika sujud, dua tangan hendaklah diletakkan di atas lantai setentang dengan bahu atau telinga, dahi dan hidung hendaklah diletakkan di atas tanah dengan menekannya. Dari Abu Humaid as-Sa’idi menceritakan;

Nabi tatkala sujud, baginda menekan hidung dan dahinya ke tanah, menjauhkan dua tangan dari rusuknya dan meletakkan dua tapak tangan setentang dua bahunya. (Riwayat Imam at-Tirmizi dan Abu Daud. Menurut at-Tirmizi; hadis ini hasan soheh).

Wail bin Hujrin r.a. (tatkala menceritakan sifat solat Nabi) beliau menceritakan;

….tatkala sujud, nabi meletakkan dua tangannya setentang dengan dua telinganya. (Riwayat Imam Ahmad).

3. Jari-jari dilepaskan menghala ke kiblat dalam keadaan dirapatkan antara satu sama lain. Wail bin Hujrin r.a. menceritakan;

Nabi s.a.w. tatkala ruku’ baginda merenggangkan antara jari-jarinya dan tatkala sujud baginda menghimpunnya (yakni merapatkannya). (Riwayat al-Hakim).

4. Kedua-dua siku diangkat dari tanah (yakni jangan meratakannya di atas tanah) dan dijauhkan dari dua rusuk (yakni tidak merapatkannya ke rusuk). Sabda Nabi;

Apabila kamu sujud, letaklah dua tapak tanganmu di atas lantai dan angkatlah dua sikumu (yakni jangan menghamparnya di atas tanah). (Riwayat Imam Muslim dari al-Barra’).

Sabda Nabi s.a.w. juga;

Sempurnakanlah sujudmu. Dan janganlah seseorang kamu menghamparkan dua tangannya (dari tangan hingga siku) seperti hamparan anjing (yakni; meletakkan kedua-dua tangan dan siku di atas tanah/lantai umpama anjing tidur). (Riwayat Imam Muslim dari Anas r.a.).

Menjauhkan tangan dari rusuk adalah berdasarkan hadis at-Tirmizi tadi dan juga hadis dari Buhainah r.a. menceritakan;

Nabi semasa menunaikan solat tatkala sujud, baginda memisahkan antara dua tangannya (dari rusuknya) hingga nampak putih dua ketiaknya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim/Bulugul-Maram).

5. Jari-jari kaki hendaklah dilipatkan menghala ke arah kiblat. Abu Humaid as-Sa’idi r.a. tatkala menceritakan sifat solat Nabi s.a.w. beliau menjelaskan;

….Ketika sujud Nabi meletakkan kedua tangannya ke bumi tetapi lengannya tidak dihamparkan dan tidak pula dirapatkan ke rusuk dan hujung jari kakinya dihadapkan ke arah qiblat. (Riwayat Imam al-Bukhari).

6. Ketika melakukan sujud wajib tomaninah dengan pengertian yang telah diterangkan terdahulu.

7. Ketika sujud disunatkan membaca zikir-zikir yang warid dari Nabi terutamanya tasbih. Begitu juga digalakkan banyak berdoa ketika berada di dalam sujud. Sabda Nabi s.a.w.;

Sehampir-hampir seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika ia sedang sujud. Oleh demikian, perbanyakkanlah oleh kamu sekelian berdoa (ketika sujud). (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Adakah harus membaca al-Quran semasa sujud?

Tidak harus kerana Nabi s.a.w. menegahnya dengan sabdanya;

Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca al-Quran ketika ruku’ atau sujud. Adapun di dalam ruku’, maka hendaklah kamu agungkan Tuhan kamu. Sementara di dalam sujud, hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, nescaya doamu pasti akan diperkenankan. (Riwayat Imam Muslim).

%d bloggers like this: