CIRI DAJJAL MENURUT NABI, AL QURAN DAN HADITS


Dajjal+mata+satu
Ciri Dajjal Menurut Nabi, Al Quran dan Hadits . Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah munculnya Dajjal, yaitu sosok manusia dari turunan Adam yang akan menjadi fitnah bagi manusia.karena besarnya fitnah Dajjal dan sangat berbahayanya bagi manusia, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan sifat-sifatnya secara rinci dalam berbagai hadits.

Ciri-ciri Dajjal

Dajjal Buta sebelah Matanya
Diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasannya Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebutkan Dajjal ditengah-tengah manusia seraya berkata:
إن الله لايخفى عليكم إن الله ليس بأعور ألا وإن المسيح الدجال أعور العين كأن عينه عنبة طافية
Sesungguhnya Allah ta’ala tidak Buta.Ketauhilah bahwa al-Masih ad Dajjal buta sebelah kanannya.seakan-akan sebuah anggur yang busuk. (HR. Bukhari)

Dajjal adalah Pemuda Keriting

Dari an-Nawwas bin sam’anرضي الله عنه berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika mensifati Dajjal :
إنه شاب قطط عينه طافية كأني أشبهه بعبد العزى بنقطن(روه مسلم
dia adalah seorang pemuda keriting,matanya rusak,seperti aku melihat mirip dengan abdul ‘Uzza ibnul Qathn. (HR.Muslim)

Dajjal adalah laki-laki pendek

Diriwayatkan daru Ubadah bin Shamit رضي الله عنه, berkata Rasullah صلى الله عليه وسلم :
إن مسيح الدجال رجل قصير جعد أعور مطموس العين ليس بنا تئة ولا حجرا فإن ألبس عليكم فاع لموا أن ربكم ليس بأع ور
Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, afja’ (pengkor), keriting,buta matanyasebelah tidak timbul tidak pula berlubang.Kalau ia membuat kalian ragu-ragu ketauhilah Rabb kalian tidak buta.(HR. Daud; dan dishahihkan oleh al-Bani dalam shahi al-Jami’u ash-Shagir,Hadits no.2455)
Afja’ dalam hadits diatas adalah seorang yang kalau berjalan meregangkan antara dua kakinya seperti seorang yang selesai di khitan. Dan ini adalah salah aib dajjal juga,demikian dikatakan dalam Aunul Ma’bud Syarh Abu Dawud, Hal.298)

Dajjal Lebar lehernya dan Bungkuk

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه,bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
وأما مسيح الصلالة فإنه أعور العين أجلى الجبهة عريض النحر فيه دفأ كأنه قطن بن عبد العزى
Adapun penebar kesesatan (Dajjal),maka dia buta matanya sebelah,lebar jidatnya,luas lehernya dan agak bungkuk mirip dengan Qathn Ibnu Abdil Uzza. (HR.Ahmad dalam Musnad-nya ; Berkata Ahmad Syakir : “isnadnya shahih” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir)

Memiliki “Surga” dan “Neraka”

Dari Huzaifah رضي الله عنه bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
الدجال أعور العين اليسري جفال الشعر معه جنة و جنته نار
Dajjal matanya buta sebelah,cacat mata kirinya, tebal rambutnya,dia memilki surga dan neraka”. Surganya adalah neraka Allah,dan nerakanya adalah surga ALLah.(HR.Muslim)

Diantara Kedua mata Dajjal tertulis KAFIR

Dari Annas رضي الله عنه, berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
…ألا إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور وإن بين عينيه مكتب كافر فيه
…Ketahuilah sesungguhnya dia (Dajjal) buta sebelah sedangkan Rabb kalian tidak buta.Dan sesungguhnya diantara kedua matanya tertulis KAFIR.(HR.Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan :
ثم تهجاها (ك ف ر) يقروه كل مسلم
…Kemudian mengejanya (Kaf , Fa , Ra) semua Muslim dapat membacanya.(HR.Muslim dalam shahihnya kitab Fitan (18/59-SyarhImam Nawawi)
Dalam riwayat lain dari Hudzaifahرضي الله عنه dikatakan :
يقرؤه كل مؤمن كاتب وغير كتب
…Setiap Mukmin dapat membacanya, apakah dia bisa tulis atau pun buta huruf.(HR.Muslim)

Para Nabi telah memperingatkan dari Fitnah Dajjal

Dari Annas رضي الله عنه, berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
ما عث نبي إلا أنذر أته الأعور الكذاب ألا إنهأعور و إن ربكم ليس بأعور وإن بين عينيه مكتوب كلفر فيه
Tidaklah diutus seorang nabi pun, kecuali memperingatkan umatnya dari bahaya si buta,sang pendusta.ketauhilah sesungguhnya dia buta sebelah sedangkan Rabb kalian tidak buta.Dan sesungguhnya diantara kedua matanya tertulis KAFIR.Dajjal besar badnnya.(HR.Bukhari)
Dari Imran bin Husain Radiyallahu anhu, beliau mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :
ما بين خلق آدم إلي فيام السا عة خلق أكبر من الد جال
“tidak ada saru makhluk pun sejak Adam sampai hari kiamat yang lebih besar dari Dajjal.(HR. MUslim)

Dajjal tidak memiliki keturunan

Dari abu sa’id al khudry رضي الله عنه, ia ditanya;
ألست سمعت رسوالله صلي الله عليه وسلم يقول إنه لا يو لد له قل قلت بلى
Bukankah engkau telah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata ; Sesungguhnya dia (dajjal) tidak mempunyai keturunan.” (Abu Sa’id) menjwab : “ya”. (HR. Muslim)

Tempat Munculnya Dajjal

Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash Siddiq رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyampaikan kepada kami :
الدجال يخرج من أرض بالمشرق يقال له خوراسان
Dajjal akan keluar dari bumi belahan timur yang disebut khurasan.(HR.Tirmidzi;dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ ash Shaghir (3/150)
Diriwayatkan dari Annas bin Malik رضي الله عنه ia berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda
يجرج الدجال من يهودية أصبها ن معه سبعون ألفا اليهود
Dajjal akan keluar dari daerah Yahudi Asbahandan bersamanya tujuh pulh ribu orang dari kalangan Yahudi (HR. Ahmad)
Berkata Ibnu Hajar Asqalani : “ Adapun tentang dari mana munculnya Dajjal maka ini sangat jelas yaitu dari arah Masryg.” (Fathu Bary (13/91)
Berkata Ibnu Katsir : “awal munculnya Dajjal dari Ashbahan, dari desa yang disebut dengan desa Yahudi (al Yahudi-yah).” (an-Nihayah/al-Fitan wal malahin (1/128)

Dajjal tidak dapat masuk Makkah Madinah

Allah subahanahu wa ta’ala telah mengharamkan Dajjal masuk Mekah dan Madinah. Sesunggunya dia menjelajahi segala negeri kecuali keduanya.
Dirwayatkan dari Fatimah binti Qais Radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menceritakan tentang kisah Tamim ad-Daari tersebut dan pengalamannya ditengah lautan ketika bertemu dengan sesosok makhluk yang terbelenggu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenarkan kisah Tami ad-Daari tersebut adalah Dajjal yang akan keluar di akhir Zaman.maka para Ulama menerima riwayat tersebut dari pembenaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
Didalam kisah tersebut disebutkan bahwa Dajjal berkata : “…maka aku akan keluar dan mengelilingi dunia.tidak ada satupun Daerah kecuali aku masuki dalam waktu 40 malam,kecuali Makkah dan Thayibah karena keduanya diharamkan atasku. Setiap aku akan memasuki salah satunya, maka akau di halangi oleh malaikat-malaikat yang ditangan-tangan mereka tergenggam pedang-pedang yang terhunus menghalauku dari keduanya…” maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakansambil menunjuk dengan tingkat ketanah:
هذه طيبة هذه طيبة هذهطيبة يغني المدينة ألا هل كنت حدثتكم ذلك؟ فقال الناس نعم فإنه أعجبني حديث تميم أنه وافق الذي كنت أحدثكم عنه وعن المدينة ومكة ألا إنه في بحر الشامأو بحر اليمن لابل من قبل المشرق ما هو من قبل المشرق ما هو من قبل المشرق ما هو وأومأ بيده إلى المشرق
“inilah yang di maksud Thoyibah, inilah yang dimaksud yakni al Madinah. Bukankah aku pernah mengatakannya kepada kalian?” maka manusia menjawab : Ya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata: “Sungguh sangat mengagumkan aku berita dari Tamim ad-Daari ini,sesungguhnya ia cocok dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Makkah. Ketauhilah sesungguhnya dia (Dajjal) ada di laut Syam atau dilaut Yaman.Tidak, Bahkan di arah Masryq,bahkan diarah Masryq sambil mengisyaratkan dengan tangannya kearah Masryq.(HR. Muslim dalam Shahih Muslim/Kitabul Fitan wa Asyrathu as-Sa’ah bab qishatul jassaasah,juz 18/83 dengan syarh Nawawi). (Hadits lengkapnya Insya Allah akan kami muat pada edisi mendatang)

Para Pengikut Dajjal

Diriwayatkan dari Annas bin Malik رضي الله عنه : SesungguhnyaRasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
أن رسوالله صلى الله عليه وسلم قل يتبع الدجال من يهود أصبهان سبعون ألقا عليهم الطيالسة
“akan mengikuti Dajjal orang-orang dari kalangan Yahudi Ashbahan 70 ribu orang yang dipimpin oleh thayalisah(HR.Muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
ينزل الدجال في هذه السخة بمرقناة فيكن أكثر من يخرج إليه النساء حتى إن الرجل ليرجع إلى حميمه وإلى أمه وابنته وأخته وعمته فيو ثقها ربا طا مخافة أن تخر ج إليه
Dajjal akan turun dari daerah dataran ber-garam yang bernama Marriqanah. Maka yang banyak mengikutinya adalah para wanita,sampai seorang laki-laki pulang kerumahnya menemui istirnya,ibu dan anak perempuan serta saudara perempuan dan bibinya kemudian mereka ikat karena khawatir kalau-kalau keluar menemui Dajjal dan mengikutinya.(HR. Ahmad(7/190) dan dishahihkan oleh Ahmad syakir).

Berlindung dari fitnah Dajjal

Oleh karena itu rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari bahaya fitnah Dajjal dengan surat al kahfi dan khususnya di akhir shalat setelah tasyahud sebagai berikut:
اللهمإني أعو ذبك من عذاب جحنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن فتنة المسيح الدجال
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-MU dari adzab neraka Jahannam,dariadzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari kejahatan fitnah al masih ad-Dajjal.(HR.Muslim)
Peringatan !!!
Syaikh al Albani rahimahullah berkata : “ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya Isa ‘alaihi Salam adalah mutawatir dan kita wajib mengimaninya.jangan tertipu dengan orang yang menganggap bahwa hadits-hadits tersebut adalah ahad (tidak mutawatir).karena mereka adalah orang-orang bodoh tentang ilmu hadits. tidak ada dari mereka yang telah menelusuri semua jalan-jalan hadits ini. kalau saja mereka mau menelusurinya,niscaya mereka pun akan mengatakan bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ucapan para imam ahlul hadits.seperti al-Hafidh ibnu Hajar as Qalani dan lain-lainnya.
Sungguh sangat disayangkan adanya orang-orang yang lancang berbicara tentang masalah ini dalam keadaan tidak memiliki spesialisasi dalam bidangnya,apalagi perkara ini perkara agama bahkan perkara aqidah.(lihat Takhrij Syarh Aqidatu ath-Thahawiyah,oleh Syaikh al-Albani,hal 501).
Sumber: http://wawanislam.blogspot.my/2013/11/ciri-dajjal-menurut-nabi-al-quran-hadits.html

ALQURAN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT


Abu Umamah r.a. berkata : “Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya
kami semua mempelajari Al-Qur’an, setelah itu Rasulullah S.A.W
memberitahu tentang kelebihan Al-Qur’an.

Gambar-Al-Quran-8
Telah bersabda Rasulullah S.A.W :” Belajarlah kamu akan Al-Qur’an, di
akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang
sangat memerlukannya.”
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, ” Kenalkah
kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab :
“Siapakah kamu?”
Maka berkata Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan
juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di
waktu siang hari.”
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Adakah kamu
Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui orang yang pernah membaca
mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan
kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula, yang muslim diberi perhiasan yang tidak
dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya
bertanya : “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami
tidak sampai ini?”
Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari
Al-Qur’an.”

SIAPAKAH LUQMAN AL-HAKIM


Dipetik dari tulisan Muhammad Khair Ramadhan Yusuf dalam bukunya Lukman al Hakim

Luqman itu adalah anak kepada Faghur bin Nakhur bin Tarikh (Azar), dengan demikian litu Luqman adalah anak saudara kepada Nabi Ibrahim a.s.; atau dikatakan juga Luqman itu anak saudara kepada Nabi Ayub a.s.

Diriwayatkan juga bahawa Luqman telah hidup lama sampai seribu (1,000) tahun sehingga dapat menemui zaman kebangkitan Nabi Daud a.s., bahkan ia pernah juga menolong Nabi Daud a.s. dengan memberikan kepadanya Hikmah atau kebijaksanaan. Luqman pernah menjadi Kadi, yakni hakim, untuk mengadili perbicaraan kaum Bani Israel.

AI-Allahamah AI-Alusy berkata: “Kebanyakan pendapat mengatakan bahawa beliau hidup di zaman Nabi Daud a.s.” Katanya lagi: “Orang juga berselisih pendapat, adakah beliau seorang yang merdeka atau seorang hamba ? Kebanyakan pihak mengatakan beliau adalah seorang hamba Habsyi”

Dipetik dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Luqman bukanlah seorang nabi mahu pun raja tetapi beliau hanyalah seorang pengembala ternakan yang berkulit hitam. Lalu Allah telah memerdekakannya dan sesungguhnya Dia redha dengan segala kata-kata dan wasiat Luqman. Maka kerana itu, kisah ini diceritakan di dalam AI-Qur’an agar kita semua dapat mengambil pedoman dan berpegang dengan wasiat-wasiatnya.”

Ibnu Kathir berkata: ‘Ulama’ salaf berselisih pendapat tentang diri Luqman; adakah dia seorang nabi atau pun seorang hamba yang soleh tanpa taraf kenabian? Di antara dua pendapat ini, kebanyakan mereka berpegang dengan pendapat yang kedua.’

Para ulama’ semuanya sepakat mengatakan Luqman itu seorang bertaraf wali dan Ahli Hikmah (bijak bistari), bukan seorang nabi, kerana lafaz hikmah dalam ayat di atas dimaknakan ‘kenabian’. Dan dikatakan juga apabila Luqman disuruh pilih antara Hikmah (kebijaksanaan) dengan Nubuwwah (kenabian), dipilihnya Hikmah. Di an tara para ulama’ tersebut ialah seperti Mujahid, Sa’id bin AI-Musayyab dan Ibnu Abbas. Wallahu A’lam.”

Ibnu Kathir ada menyebutkan di dalam kitab sejarahnya: “Beliau ialah Luqman bin Unqaa’ bin Sadam.” Diceritakan dari As­ Suhaili, dari Ibnu Jarir dan AI-Qutaibi: “Beliau ialah Luqman bin Tharan”

Dikatakan bahawa beliau ialah anak kepada AI- Baura’. Ibnu Ishaq ada menyebutkan beliau ialah Luqman bin AI Baura’ bin Tarikh iaitu Aazar Abu Ibrahim AI-Khalil.

Adalah diceritakan, bahawa Luqman telah tidur di tengahari lalu kedengaran suara memanggilnya: “Hai Luqman! Mahukah kalau Allah jadikan engkau seorang Khalifah di bumi yang memerintah manusia dengan hukuman yang benar?” Dijawabnya: “Kalau Tuhanku menyuruh pilih, akan saya pilih ‘Afiat (selamat) dan saya tidak tidak mahu bala (ujian). Tetapi kalau saya ditugaskan juga saya akan turut. Kerana saya tahu bahawa Allah Taala kalau menetapkan sesuatu kepada saya pasti Dia menolong dan memelihara saya.”Kemudian dikatakan para malaikat pula bertanya: “Hai Luqman! Adakah engkau suka diberi Hikmah?” Dijawabnya: “Sesungguhnya seorang hakim kedudukannya berat, dia akan didatangi oleh orang-orang yang teraniaya dari segenap tempat. Kalau hakim adil akan selamat, dan kalau tersalah jalan akan tersalah pulan jalannya ke neraka. Siapa yang keadaannya hidup di dunia, itu lebih baik daripada dia menjadi mulia. Dan siapa yang memilih dunia lebih daripada akhirat, akan terfitnah oleh dunia dan tidak mendapat akhirat.”

Para malaikat pun takjub mendengarkan kebagusan kata-katanya itu. Apabila Luqman tertidur semula, dia dikurniakan Hikmah, lalu terjaga dan berbicara dengan kata-kata yang berhikmah selepas itu.

Juga diriwayatkan bahawa Luqman itu seorang hamba bangsa Habsyi, kerjanya sebagai tukang kayu, tukang jahit dan seorang penggembala kambing. Apabila bertemu dengan seorang lelaki dia bercakap dengan penuh Hikmah, sehingga orang lelaki itu takjub lalu berkata: “Bukankah engkau seorang penggembala kambing?” Dijawabnya: “Benar!” Lalu ditanya orang lelaki itu lagi: “Bagaimana engkau telah dapat mencapai kedudukan engkau yang begini (bijak bestari)?” Luqman menjawab: “Saya mendapatnya dengan bercakap benar, memelihara amanah dan tak ambil tahu apa yang bukan urusan saya.”

Ada juga diriwayatkan bahawa Luqman berasal dari Sudan/Mesir, berkulit hitam, bibirnya tebal dan kulit kakinya pula retak-retak. Juga dikatakan bahawa sebaik-baik orang dari benua Afrika itu adalah 3 orang, iaitu: Bilal bin Robah, Mahja’ (yakni hamba sahaya Sayidina Umar ibn Khattab) dan Luqman al-Hakim. Orang yang ke empat pula ialah an-Najasyi (Raja Habsyah yang beriman di zaman Nabi Muhammad s.a.w.)

Ibnu Qutaibah berkata: “Luqman adalah seorang hamba Habsyi kepada seorang lelaki dari kalangan bani Israil. Kemudian beliau dibebaskan dan diberikannya harta.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia telah berkata: Rasullullah s.a.w. pernah bersabda:

“Adakah engkau semua tahu siapakah dia Luqman? “Mereka pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih tahu.” Baginda bersabda: “Dia adalah seorang Habsyi.” Pendapat yang mengatakan dia adalah seorang habsyi, adalah dari lbnu Abbas dan Mujahid.

As-Suhaili berkata: “Luqman adalah Naubah dari penduduk Ielah ( Sebuah bandar di tepi laut merah )” Demikian juga dipetik oleh Qatadah, dari Abdullah bin Az-Zubair: Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “Apakah cerita terakhir yang sampai kepadamu tentang perihal diri Luqman? “J abir menjawab: “Dia adalah seorang yang pendek, pesek hidungnya dari keturunan Naubah.” lanya juga sebagaimana yang disebutkan dari Sa’id bin AI­ Musayyab, katanya: “Luqman adalah dari Sudan, Mesir.”

AI-Hassan AI-Basri pula berkata: “Luqman telah membina sebuah singgahsana di Ramlah, Syam. Pada masa itu, tempat tersebut masih lagi belum dibangunkan. Dia berada di sana sehinggalah Ian jut usianya dan meninggal dunia.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Aku telah diberitahu bahawa kubur Luqman adalah di antara Masjid Ar-Ramlah dan tempat didirikan pasar pada hari ini.Di tempat tersebut terdapat 70 kubur nabi-nabi sebelum Luqman.

Dilaporkan, bahawa Luqman adalah seorang mufti sebelum Nabi Daud a.s dibangkitkan. Apabila baginda diutuskan kepada umatnya, Luqman berhenti dari memberikan fatwa. Ada orang bertanyakan; padanya tentang hal itu lalu dia pun berkata: “Adakah aku tidak mahu berhenti apabila aku telah merasa cukup?!! “

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Mujahid: “Beliau adalah seorang Qadhi di kalangan kaum bani Israil di zaman Nabi Daud a.s”

Demikianlah siapa itu Luqmanal Hakim. Tidak kira siapapun dia, yang penting beliau adalah seorang yang mempunyai hikmah kebijaksanaan. Kata-katanya diberkati Allah dan dirakamkan didalam Al Quran.

Dipetik dari tulisan Muhammad Khair Ramadhan Yusuf dalam bukunya Lukman al Hakim

_________________________________________
Sumber: http://smzblog.wordpress.com

MERENUNG KEJUJURAN HUD-HUD DAN KETEGASAN NABI SULAIMAN A.S


20. dan (setelah itu) Nabi Sulaiman memeriksa kumpulan burung (yang turut serta Dalam tenteranya) lalu berkata: “Mengapa Aku tidak melihat burung hud-hud? Adakah ia dari mereka yang tidak hadir? 21. “Demi sesungguhnya! Aku akan menyeksanya Dengan seksa yang seberat-beratnya, atau Aku akan menyembelihnya, kecuali ia membawa kepadaKu alasan yang terang nyata (yang membuktikan sebab-sebab ia tidak hadir)”. 22. burung hud-hud itu tidak lama ghaibnya selepas itu, lalu datang sambil berkata (kepada Nabi Sulaiman): “Aku dapat mengetahui secara meliputi akan perkara yang Engkau tidak cukup mengetahuinya, dan Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ Dengan membawa khabar berita yang diyakini kebenarannya. 23. “Sesungguhnya Aku dapati seorang perempuan memerintah mereka dan ia telah diberikan kepadanya (serba sedikit) dari tiap-tiap sesuatu (yang diperlukan) dan ia pula mempunyai singgahsana yang besar. 24. “Aku dapati raja perempuan itu dan kaumnya sujud kepada matahari Dengan meninggalkan ibadat menyembah Allah, dan Syaitan pula memperelokkan pada pandangan mereka perbuatan (syirik) mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (yang benar); oleh itu mereka tidak beroleh petunjuk, 25. “(Mereka dihalangi oleh Syaitan) supaya mereka tidak sujud menyembah Allah yang mengeluarkan benda yang tersembunyi di langit dan di bumi, dan yang mengetahui apa yang kamu rahsiakan serta apa yang kamu zahirkan. 26. “Allah! – tiada Tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai Arasy yang besar “. 27. Nabi Sulaiman berkata: Kami akan fikirkan dengan sehalus-halusnya, Adakah benar apa yang Engkau katakan itu, ataupun Engkau dari golongan yang berdusta. 28. “Pergilah bawa suratku ini, serta campakkanlah kepada mereka, kemudian berundurlah dari mereka; Dalam pada itu perhatikanlah apa tindak balas mereka”.

Banyak kisah ditampilkan di dalam Al Quran memiliki pengajaran yang relevan sepanjang zaman dengan kehidupan sosial kita. Al Quran telah menampilkan sejumlah tokoh-tokoh tauladan dan tokoh-tokoh pengajaran agar dijadikan renungan tentang akibatnya kepada masyarakat. Ada kisah pembela kebenaran yang terdiri dari Para Nabi, Rasul dan orang-orang yang soleh, ada juga tokoh pelopor kezaliman seperti Firaun, Tsamud, ‘Ad, dan Abrahah. Selain dari tokoh-tokoh dari bangsa manusia, ada juga kisah yang menampilkan pelajaran dari bangsa haiwan. Kisah Nabi Sulaiman dan burung

Hud-Hud merupakan salah satu contoh kisah pengajaran yang terkandung di dalam Al Quran. Kisah ini dirakamkan di dalam surah An Naml ayat 20 hingga 28 supaya ia menjadi pengajaran kepada manusia, kisah mengenai sebuah kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seseorangpun setelah kewafatan Nabi Allah Sulaiman A.S.

Wahai Tuhanku! Ampuni kesilapanku, dan kurniakanlah kepadaku sebuah kerajaan (yang tiada taranya dan) yang tidak akan ada pada sesiapapun kemudian daripadaku; sesungguhnya Engkaulah yang sentiasa Melimpah kurniaNya”Surah As Shad:35, Al Quranul Karim

Pada satu ketika, Nabi Sulaiman A.S mengumpulkan seluruh pengikut-pengikutnya dan memeriksa mereka baik dari kalangan manusia, jin dan haiwan. Sesudah diteliti, ternyata burung Hud-Hud didapati tidak hadir sehingga menyebabkan Nabi Sulaiman A.S murka kepada Hud-Hud dan bertekad akan menyembelihnya sebagai hukuman. Tidak lama kemudian, Hud-Hud datang menghadap Nabi Sulaiman dengan penuh pengaduan, menjelaskan sebab-musabab keterlewatannya di dalam majlis perhimpunan yang diwajibkan oleh Baginda Sulaiman. Hud-Hud menjelaskan kepada Baginda bahawa ia terserempak dengan seorang wanita bernama Balqis, seorang ratu kerajaan Saba’ yang memiliki singgahsana yang besar, tetapi malangnya ratu tersebut tidak beriman dan tunduk kepada Allah Taala.

Pengaduan Hud-Hud diterima oleh Nabi Sulaiman, lantas Baginda mengarahkan Hud-Hud untuk menyiasat perkara itu dan membawa surat perutusan dari Baginda. Diringkaskan di sini bahawa Hud-Hud adalah seekor makhluk kecil yang memiliki kepekaan dan prihatin terhadap peristiwa yang berlaku di sekelilingnya. Keistimewaan yang dimiliki oleh Hud-Hud adalah taat kepada pemimpin dan dahagakan maklumat. Walaupun Hud-Hud menyedari kelewatannya bertemu Nabi Sulaiman, Hud-Hud tetap hadir dengan membawa amanah untuk dihadapkan kepada pemimpinnya.

Keterlewatan Hud-Hud bukan alasan untuknya tidak hadir bertemu Nabi Sulaiman. Ini menunjukkan Hud-Hud memiliki sifat berani biarpun kemungkinan yang bakal berlaku ialah Hud-Hud akan dihukum oleh Nabi Sulaiman.

Demi sesungguhnya! Aku akan menyeksanya dengan seksa yang seberat-beratnya, atau aku akan menyembelihnya, kecuali ia membawa kepadaku alasan yang terang nyata (yang membuktikan sebab-sebab ia tidak hadir) An Naml: 21, Al Quranul Karim

Sekali imbas ancaman yang dituturkan oleh Nabi Sulaiman A.S kepada Hud-Hud tersebut adalah amat menggerunkan, apalagi jika ucapan tersebut ditujukan kepada manusia yang melalaikan perintahnya. Seolah-olahnya Nabi Sulaiman mengeluarkan ‘pekeliling surat berhenti kerja 24 jam’ kepada Hud-Hud, tetapi sambungan ayat selanjutnya menyerlahkan sisi lain yang walaupun disampaikan dalam keadaan murka, namun rasional masih menguasai diri Nabi Sulaiman, “…Kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas”.

Apa yang benar, Hud-Hud tidak terbang ke negeri Saba’ untuk bersiar-siar, makan angin ataupun melanggar prinsip-prinsip umum seperti mengabaikan perintah pemimpin dan sebagainya, sebaliknya Hud-Hud terbang dan kembali ke perbarisan Nabi Allah Sulaiman. Kelewatan Hud-Hud adalah kerana ingin mendapatkan maklumat berkaitan keadaan politik di negeri Saba’. Misi yang dibawanya juga adalah misi yang besar, iaitu misi men-tauhidkan umat manusia, bukannya misi-misi berbentuk sekunder seperti masalah khilafiyyah, permusuhan peribadi dan tuduh-menuduh, tetapi misi menyelamatkan manusia dari menjadi ‘parasit’ kekufuran.

Namun, tindakan Hud-Hud pula janganlah dijadikan alasan untuk bersikap tidak Wala’ kepada pimpinan, iaitu wabak ‘meroyan’ dan ‘hilang kawalan’ dan ’emosional‘, atau watak mengutamakan pendapat sendiri berbanding keputusan pimpinan dalam melakukan gerak kerja jamaah sehingga tidak selari dengan dasar dan matlamat gerakan Islam. Kisah ini tidak seharusnya dijadikan sandaran dalil kepada aktivis gerakan Islam untuk buat ‘kepala sendiri’ atau ingin berperanan sebagai Hud-Hud sahaja, iaitu mahu meninjau ‘kawasan’ sahaja tanpa melakukan kerja lain. Ini kerana yang terbang ke sana sini barangkali bukannya Hud-Hud milik Nabi Sulaiman, tetapi mungkin seekor gagak hitam yang merayau-rayau meninjau timbunan sampah.

Hud-Hud tetap meletakkan ketaatan kepada Nabi Sulaiman kerana ketaatan kepada pemimpin adalah perkara dasar (thawabit) dalam berjamaah, bukan mengabaikannya. Sikap yang ditunjukkan Hud-Hud juga memperlihatkan bahawa seorang perajurit Islam mestilah memiliki kepekaan terhadap amanah, sikap mengkaji dan teliti, bersemangat untuk menyedarkan kaum walaupun dengan kemampuan dan peranan yang kecil. Begitulah juga dalam ilmu dakwah, kategori penyampaian boleh dilakukan dengan pelbagai dari setinggi-tinggi kaedah penyampaian sehingga serendah-rendah daya kemampuan, bermula dari kuasa dan arahan, kemudiannya percakapan, penulisan dan seterusnya akhlak yang baik. Baginda Nabi Muhammad S.A.W sendiri sebelum dikenal sebagai pemidato di pentas dakwah dan politik, Baginda S.A.W pada awalnya dikenal melalui akhlak yang mulia sehingga digelar oleh sahabat dan musuh sebagai “Al Amin”.

Manakala dari sisi pengajaran yang dapat kita amati dari sikap Nabi Allah Sulaiman pula, seorang pemimpin mestilah memiliki sifat tegas dan sentiasa mencari jalan penyelesaian yang terbaik, bukannya bertindak semberono dan menuduh tanpa pemeriksaan yang nyata. Ketelitian Nabi Sulaiman dapat dilihat melalui katanya di dalam surah An Naml ayat 27:

Nabi Sulaiman berkata; Kami akan fikirkan dengan sehalus-halusnya, adakah benar apa yang engkau katakan itu, ataupun engkau dari golongan yang berdusta

Ketegasan ini menunjukkan kepada setiap pemimpin agar jangan segera percaya dengan setiap alasan yang diberikan tanpa penelitian. Dalam lapangan politik, seorang pemimpin memang wajar bersikap buruk sangka kepada barisan yang dipimpinnya, tetapi bukanlah dengan hanya bersikap buruk sangka sahaja tanpa mencari jalan penyelesaiannya. Periksa betul-betul setiap laporan yang dikemukakan, kerana khuatir maklumatnya ditokok-tambah, sedangkan realitinya ‘jauh panggang dari api’. Ini kerana informasi yang tepat & boleh dipercayai sangat penting untuk meneruskan kelancaran organisasi agar visinya mampu bergerak laju tanpa ‘tempang’.

Itulah yang ditekankan oleh Nabi Allah Sulaiman, Baginda tidak terus melulu menerima setiap patah kata-kata Hud-Hud, sebaliknya memeriksa intipati kebenarannya:

Pergilah bawa suratku ini, serta campakkanlah kepada mereka, kemudian berundurlah dari mereka; dalam pada itu perhatikanlah apa tindak balas mereka” – An Naml:28, Al Quranul Karim

Imam Al Qurtubi di dalam tafsirnya mengatakan,

Ayat ini adalah dalil yang menunjukkan perlunya pengiriman surat-surat kepada orang-orang musyrik dan menyampaikan dakwah tauhid kepada mereka, dan mengajak mereka masuk Islam. Rasulullah S.A.W juga telah menulis surat kepada kerajaan Caesar Romawi dan Kisra Parsi dan kepada beberapa raja yang zalim” [Rujuk Tafsir Qurtubi 13/189]

Di dalam Surah An Naml ayat 28, sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Sulaiman juga mengajarkan bahawa seseorang pemimpin itu mestilah merasai kehilangan anggota pengikutnya sekiranya tidak hadir. Seorang pemimpin harus memerhatikan siapa yang tidak hadir dalam setiap pertemuan dan kegiatan kerana ia merupakan tanggungjawab yang mesti dilakukannya sebagaimana seorang imam memerhatikan kehadiran para makmum-nya. Kata Umar Al Khattab R.A,

Selidiklah sahabatmu di waktu solat. Jikalau mereka tidak hadir kerana sakit, engkau jenguklah. Dan sekiranya dalam keadaan sihat-sihat sahaja maka patutlah untuk dicela.

Nabi Sulaiman juga mengajarkan kepada bakal pemimpin negara supaya tidak meremehkan perkara kecil, kerana seringkali sesuatu yang besar bermula dari awalnya nampak kecil. Tugas yang dimainkan oleh Hud-Hud hanya kecil jika dibandingkan dengan jin Ifrit yang menanggung beban berat singgahsana Balqis, tetapi sumbangan jentera kecilnya bernama Hud-Hud tetap direkodkan di dalam Al Quran kerana “kejujuran”nya. Selain itu, sebagai manusia kita perlu merasa malu dengan Hud-Hud, spesis burung yang kecil tetapi hidupnya digunakan untuk misi besar iaitu mengajak manusia mentauhidkan Allah, bahkan dia melakukan tugasan mulia tersebut tanpa menunggu arahan khusus.

Jika kita telusuri dunia penciptaan yang berjaya mewujudkan peradaban di dunia, kita dapat melihat banyak karya-karya penciptaan dan hasil-hasil penemuan awalnya dirintis oleh individu tidak ternama seperti Ibnu Firnas (W.887) yang mencipta bingkai pesawat yang hanya boleh dikendalikan oleh seorang manusia sahaja. Kemudian hasil ujikaji tersebut didukung oleh Wright brothers iaitu Oliver Wright dan Wilbur Wright pada tahun 1903 sehingga berjaya menghasilkan pesawat secanggih kita saksikan pada hari ini. Demikan juga dalam medan dakwah, pada awalnya ia bermula daripada kekentalan seorang individu, kemudian akhirnya nanti ia menjadi garapan organisasi sebagaimana kejayaan dakwah Nabi Muhammad S.A.W yang bermula dari era pembinaan umat di Madinah, tetapi impak mutakhirnya Baginda berjaya mencipta pelbagai versi tamadun kerajaan dan ketokohan manusia yang berkiblatkan dakwah Islam.

Hasil kejayaan itu semuanya terangkum kepada kata kunci “Misi & Visi”. Jika haiwan sekecil Hud-Hudpun memiliki visi dan misi-nya iaitu “MENTAUHIDKAN ALLAH”, maka apatah lagi manusia yang diberikan kudrat menundukkan seluruh makhluk yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Dengan visi dan misi inilah Salahuddin Al Ayyubi dapat menguasai kembali Baitul Maqdis, dengan visi dan misi ini Saifuddin Qutuz berjaya menewaskan tentera Tatar yang dianggap umat Islam waktu itu sebagai Ya’juj wa Ma’juj, dengan visi dan misi ini juga menyebabkan Khalid Al Walid tidak berkecil hati dengan perlucutan jawatannya sebagai panglima perang oleh Khalifah.

Penutup

Marilah kita tanamkan visi dan misi kehidupan kita semata-mata mentauhidkan Allah Taala. Elakkan cara berfikir “ia bukan kerja saya”, sebaliknya bertindaklah seperti Hud-Hud yang walaupun dia hadir dengan ‘lewat’nya, tetapi komitmen-nya, ke-ikhlasannya, kejujurannya dan gerak kerjanya dipertaruhkan semata-mata demi usaha mentauhidkan Allah Taala. Kita belajar ilmu untuk mentauhidkan Allah. Kita bekerja untuk mentauhidkan Allah Taala. Kita menceburkan diri dalam dunia politik dan kepartian untuk mentauhidkan Allah Taala, hatta dalam sekecil-kecil perkara sekalipun seperti menulis di “wall facebook” dan sebagainya juga demi mentauhidkan Allah Taala.

Ini kerana, jika anda benar-benar jujur, kesalahan bukanlah ukuran seseorang itu melakukan kederhakaan, tetapi adalah kejayaan yang akan menjadi renungan pada hari ‘esok’. Kejujuran adalah sifat para pendokong kemenangan. Hal ini dapat kita pelajari dari kekalahan umat Islam di perang Mu’tah, iaitu ketika ketiga-tiga orang panglima perang yang dilantik Rasulullah S.A.W gugur syahid bernama Zaid bin Harithah, Jaafar bin Abi Talib, dan Abdullah bin Rawahah; Khalid al-Walid mengambil alih tempat ketua tentera, atas permintaan beberapa individu di dalamnya. Khalid Al Walid melihat bilangan tentera Islam terlalu sedikit jika dibandingkan dengan tentera Rom. Oleh itu, Khalid membuat keputusan membawa tentera pulang ke Madinah. Apabila mereka hampir dengan Madinah, mereka telah disambut taburan tanah daripada orang ramai sambil berkata, “Wahai orang-orang yang melarikan diri. Kamu telah lari daripada medan jihad di jalan Allah”.

Lantas Rasulullah S.A.W membela Para Sahabatnya yang jujur, “Mereka bukanlah orang yang melarikan diri tetapi mereka adalah orang yang akan mengulangi peperangan, Insya Allah” [ Rujuk Sirah Ibnu Hisyam 4/292 ]

Sumber Rujukan:
[1] Min Fiqhil Aulawiyyat, Dr. Majdi Hilali
[2] Feqh Nasr wa Tamkin, Dr. Mohamad Ali As Solabi

Sumber:http://www.tarbawi.my diaksess:7 Mac 2012:11:05AM)

SENIBINA KAUM TSAMUD


وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ ﴿٩﴾

Dan (terhadap) kaum Thamud yang memahat batu-batu besar di lembah (Wadil-Qura iaitu tempat tinggalnya)?
Bangunan-bangunan yang dipahat pada batu-batu besar ini dibuat oleh kaum Tsamud, ummat Nabi Shalih, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَـٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾

Dan kepada kaum Tsamud (Kami telah mengutus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya… Kalian dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kalian pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian merajalela di muka bumi membuat kerosakan. (Surat Al-A’raaf ayat 73-74).
Senibina kaum Tsamud 3,000 tahun yang lalu

Pahatan ukiran dan ornamennya sangat halus, indah dan menakjubkan.Wilayah kekuasaan kaum Tsamud membentang hingga ke kawasan Petra (Jordan). Bezanya, Petra sudah dijadikan komoditi pelancongan utama Jordan selain Laut Mati.

Senibina kaum Tsamud 3,000 tahun yang lalu

Sementara Mada’en Shaleh (perkampungan Nabi Shaleh), terletak di sebelah utara daratan Arab Saudi, 380 km dari kota suci Madinah Al-Munawwarah.  Ia masih menjadi perdebatan antara kepentingan  pelancongan Saudi yang mulai mengangkat Mada’en Saleh sebagai komoditi pelancongan, dengan para ulama yang berpendapat bahawa tempat tersebut adalah tapak peninggalan ‘kaum terlaknat’, sehingga umat Islam diharamkan untuk menziarahinya.

Pada ayat lain kaum Tsamud disebut sebagai Ashabul-Hijri (penduduk kota Al-Hijr iaitu kawasan pergunungan yang terletak antara Madinah dan Syria):
Dan sesungguhnya penduduk (kota) Al-Hijr telah mendustakan para rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka (tanda-tanda) kekuasaan Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya. Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung batu (yang didiami) dengan aman.” (Surat Al-Hijr ayat 80-82).
Senibina kaum Tsamud 3,000 tahun yang lalu
Kaum Tsamud adalah kaum yang mengingkari ajaran Nabi Shalih. Mereka mensyirikkan Allah dengan menyembah berhala, bahkan mereka menyembelih unta betina yang merupakan mu’jizat Nabi Shalih, lalu mencabar kedatangan azab buat mereka.
 
Cabaran itu dijawab Allah dengan menimpakan bencana gempa bumi ke atas mereka.
Kerana itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (Surat Al-A’raaf ayat 78).
Senibina kaum Tsamud 3,000 tahun yang lalu

Pada ayat lain dikatakan, Allah juga mengirimkan bencana petir yang dahsyat:

Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Surat Fushilat ayat 17)

Senibina kaum Tsamud 3,000 tahun yang lalu
Senibina kaum Tsamud 3,000 tahun yang lalu

Betapa gahnya senibina dan pertukangan kaum Tsamud walaupun masanya adalah 3,000 tahun yang lampau. Tetapi sayang, kehebatan itu hanya dijuruskan kepada duniawi semata-mata, tanpa menumpukan kepada kerohanian dan keTuhanan.

Bagaimana dengan negara kita sekarang ini jika mahu bandingkan dari segi kehebatan senibina? Adakah kita mahu mengejar kemajuan dan di dalam masa yang sama mengabaikan kerohanian umat dan menolak Hukum Allah dan terus menjalankan Hukum buatan manusia iaitu Hukum British?

Rujukan:
1 – http://www.harunyahya.com/indo/artikel/053.htm
2 – http://penulis165.esq-news.com/perjalanan/2010/08/31/madaen-shaleh-situs-peninggalan-kaum-tsamud-bagian-1.html

Sumber: http://unikversiti.blogspot.com

KISAH TALUT DAN JALUT (SIRI 4-AKHIR)


Dari Siri 3: KISAH TALUT DAN JALUT (SIRI 3)

Mikyal lalu menjawab:

Saya tidak akan sembunyikan apa yang kuketahui ya Daud, suamiku. Saya tidak akan tutup kepadamu hal hal yang tidak engkau ketahui. Adapun bapaku, sejak bangsa Bani Israel mencintai dan menghormatimu dengan kecintaan yang sehebat itu, setelah melihat bahawa tiap tiap kata kata perintahmu ditaati oleh bangsa kita seluruhnya dan kedudukanmu makin tinggi dalam pemandangan mereka semua, bapaku irihati dan dengki. Takut kalau kalau kekuasaan yang ada ditangannya sekarang ini, berpindah ke tanganmu.

Sekalipun bapaku itu termasuk orang yang beriman kepada Allah dengan segala keikhlasan keimanan dan termasuk salah seorang yang berpengetahuan tinggi serta bijaksana, raja besar yang disegani oleh setiap raja; tetapi di hari yang akhir-akhir ini, saya juga melihat sebagai apa yang engkau lihat itu. Bapaku ingin mengenyahkan engkau, memperkecil akan pengaruhmu, bahkan kalau dapat akan membuangmu dari pergaulan hidup.

Sebab itu, saya ingin menasihatkan kepadamu, agar engkau sejak sekarang berjaga jaga dengan keselamatan dirimu sendiri. Menurut fikiranku, untuk menghindarkan bahaya yang mungkin tiba itu, adalah sebaik baiknya engkau menjauhkan diri dari sini.

Berkata pula Daud:

Bukankah aku ini askar biasa, tidak ingin merebut kedudukan raja yang kutaati dan kupertahankan, apalagi aku ini adalah seorang Mukmin yang penuh iman. Sungguh Talut menurutkan pengaruh syaitan saja, menurutkan hawa nafsu atas kekuasaan dunia. Keputusan untuk berangkat sebagai dinasihatkan isterinya itu, belum diambil oleh Daud, dia masih tetap di situ sekalipun dengan keadaan seperti berdiri di atas bara yang bernyala nyala. Tiba tiba pada suatu hari Talut memanggil Daud datang menghadap kepadanya.

Setelah Daud datang, Talut berkata:

Hari ini aku mendapat khabar yang sangat berbahaya. Bangsa Kanan dengan tenteranya yang besar dan kuat, telah mulai menyerang negeri kita, Tidak ada yang dapat mempertahankan keselamatan negeri kita ini, selain engkau sendiri. Ambillah pedang dan perisaimu,  kumpulkanlah tentera tentera yang kamu pilih, pergilah berangkat sekarang juga menghalaukan musuh itu. Engkau tidak boleh kembali pulang, kalau tidak dengan membawa kemenangan.

Daud merasa, bahawa perintah ini sangat berbeza dengan perintah perintah yang biasa, Mungkin ini suatu cara untuk melenyapkan dia dari permukaan bumi ini. Tetapi sungguhpun begitu, kewajipannya sebagai tentera, hanya mentaati dan menjalankan perintah yang sudah dikeluarkan oleh jeneral dan rajanya sendiri.

Dengan tentera yang terbatas, Daud berangkat ke medan perang menghadapi musuh yang besar itu. Dengan pertolongan Allah, dia menang dalam peperangan itu, musuh dapat dikalahkannya dengan bertekuk lutut. Kemenangan yang sangat besar ertinya ini, bukan membulatkan penghargaan dari Talut terhadap Daud, tetapi menambah berkobarnya perasaan dengki dan bencinya.

فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ ﴿٢٥١﴾

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai kurnia (yang dicurahkan) atas semesta alam. – (Surah Al-Baqarah, Ayat 251)

Demikianlah kalau ingin berkuasa di dunia ini telah terpaku terhunjam dalam jiwa seseorang, perasaan suci dan keimanan dapat terdesak olehnya, bila kesucian dan keimanan itu tidak dipupuk dan diasuh, apabila kalau kekuasaan itu berada di tangan seorang yang kotor batinnya dan tidak ada keimanan sama sekali. Kerana nafsu yang di kobar kobarkan oleh hasutan syaitan ini, Talut menetapkan cara untuk mengenyahkan Daud, sekalipun dengan cara se kejam dan sejahat jahatnya. Dia sudah menetapkan akan membunuh Daud dengan pedangnya sendiri.

Kehendaknya ini sekalipun disembunyikan, tetapi dapat juga diraba oleh anaknya (Mikyal) yang jauh pemandangannya itu. Hal ini dengan segera disampaikannya kepada Daud. Sambil berlinangkan airmata ia berkata kepada Daud:

Saya lebih sengsara rasanya, kalau engkau terbunuh mati dihadapanku sendiri. Sebab itu, sekalipun agak berat; saya minta agar engkau segera melarikan diri meninggalkan rumah dan aku untuk menjaga keselamatan dirimu dan pula diriku sendiri.

Setelah berfikir sejurus, akhirnya Daud pun tidak mempunyai jalan lain yang lebih baik dan aman, selain melarikan diri. Dia pergi dengan perasaan yang tidak dapat dibayangkan dengan pena dan kata kata. Pemergian ini menggemparkan bangsa Israel seluruhnya. Pemergian yang tidak dijangkakan oleh mereka terlebih dahulu. Di antara keluarga dan orang orang yang cinta kepada Daud, menyusul Daud dari belakang.

Mulanya sedikit saja orang yang mengikutinya, tetapi akhirnya semakin ramai juga. Kebencian terhadap Talut semakin meluap dikalbu rakyat banyak, yang insaf dan sedar. Sekarang rakyatlah yang baik dan suci, raja dan pemimpinlah yang kotor dan jahat. Setelah banyak orang yang lari ke pihak Daud, semakin geramlah Talut kerananya, tetapi juga disusul oleh tenteranya sendiri. Hampir seluruh anggota tentera, sekarang berpihak kepada Daud yang berada dalam pelarian itu.

Kedudukan Talut semakin lemah dan goyang, Tidak ada lain jalan bagi Talut, selain dengan segera menyerang Daud yang semakin kuat itu, sebab kalau terlambat, maka kejatuhannya sudah tentu dan kemenangan Daud sudah pasti pula. Semua kekuatan yang ada padanya, dikerahkan untuk menyerang dan membunuh Daud. Rencananya ini diketahui oleh Daud. Daud bersiap dan tetap menjaga kesabaran dan keimanan dalam dadanya.

Dengan berbagai cara, Daud ikhtiar untuk menghindarkan pertempuran sesama bangsa. Dia berpesan agar Talut kembali kepada kebenaran, menjauhkan segala syak wasangka yang tak beralasan itu, tetapi semua ini sia sia belaka. Kalau Daud tidak bertahan dan melawan, mungkin kebenaran akan hancur, sedang nafsu serakah akan bermaharajalela. Dia terpaksa menggerakkan pertempuran, menghadapi lawannya yang tidak kenal damai itu.

Tentera Talut sekarang ini berhadapan dengan tentera Daud. Dari seorang utusan, Daud mengetahui di mana sekarang ini Talut berada. Seketika Talut dan tenteranya di dalam kepenatan dan lelah, berhenti dan tidur di sebuah tempat pertahanannya, dengan diam diam Daud berjalan mendekatinya. Dalam keadaan tertidur dan terlengah itu, Daud berhasil mengambil lembing perang yang berada di tentangan kepala Talut yang sedang tidur. Talut tidak dibunuhnya, tetapi lembing itu saja yang diambil dan dibawanya.

Alangkah terperanjatnya Talut setelah dia terbangun dari tidurnya, bahawa lembingnya sudah tidak ada. Dia marah sekali terhadap tenteranya dan bertanyakan di mana lembingnya sendiri. Dalam keadaan panik dan kacau itu, tiba tiba dihadapan Talut muncul seorang lelaki membawa lembingnya yang hilang itu dan berkata kepada Talut di hadapan semua kaum dan tenteranya:

Inilah lembingmu yang hilang itu. Saya ini utusan Daud, datang ke mari mengembalikan lembing ini kepadamu dan lembing ini diambil oleh Daud ke mari tadi, ketika kamu tidur. Dia tidak bermaksud membunuhmu, hanya diambilnya saja lembing ini, dengan harapan dengan kembalinya lembing ini kepadamu,kembali pula keinsafan dan kesedaran atas salahnya tindakan yang kamu ambil.

Kata kata utusan Daud ini berpengaruh besar dalam jiwa Talut, airmatanya keluar. Nampak benar sesalnya atas tindakannya selama ini. Nampak pula sesal hatinya yang telah berbuat khianat kepada Daud, seorang suci yang berjasa dan menantunya pula. Talut menangis tersedu sedu, dia teringat telah banyak membunuh orang orang yang melarikan diri kepada Daud, membunuh ulama ulama dan pembesar pembesar bawahannya sendiri. Sedar dia akan besarnya dosa yang diperbuatnya, terbayang di matanya seksa apa pula yang akan diterimanya dari Allah di alam akhirat nanti.

Pertempuran tidak terjadi. Talut bersama tenteranya kembali pulang membawa kemenangan yang berupakan sesal dan kesedaran. Di rumah, dia tanggalkan semua pakaian kerajaan dan kebesarannya. Dia bertafakur menghadapkan muka dan jiwa kepada Allah semata,
minta ampun dan taubat dengan hati yang setulusnya. Begitulah kerjanya setiap hari, lain tidak. Akhirnya badannya menjadi lemah juga. Dengan mulut yang tidak kering keringnya, ia minta taubat dan mensucikan nama Tuhan, dia meninggal dunia, pulang ke rahmatullah!

Seluruh rakyat dengan spontan berkerumun di sekitar Daud dan mengangkat Daud menjadi raja mereka. Di bawah pemerintahan Daud, Kerajaan Bani Israel maju pesat, aman dan makmur dengan rakyat yang berhati takwa kepada Allah, sehingga kerananya, rahmat dan nikmat Allah terus menerus turun sebagai dicurahkan dari langit!

WaAllahu’alam.

KISAH TALUT DAN JALUT (SIRI 3)


Dari Siri 2: KISAH TALUT DAN JALUT (SIRI 2)

Mereka bukan maju ke muka, malah kadang kadang terpaksa mundur ke belakang. Apalagi di tengah tengah api peperangan yang sedang bergejolak itu. tentera Talut terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama, orang orang yang beriman dan penuh semangatnya, golongan kedua, orang orang yang sudah mulai putusasa dan lemah semangatnya, iaitu golongan yang telah melanggar perintah komandannya. Mereka ini telah mengeluarkan ucapan:

Kita tidak akan kuat melawan Jalut dan tenteranya.

Adapun golongan yang tetap dan penuh semangatnya, iaitu golongan yang patuh menjalankan semua perintah komandannya, tetap penuh kepercayaan dalam batin dan jiwanya. Perjuangan mereka semakin berkobar kobar dan bersemangat, sebab keyakinan mereka adalah:

Berapa banyaknya kejadian, di mana golongan yang sedikit, dapat mengalahkan golongan yang terbesar, dengan keizinan dari Allah, sebab Allah selalu menolong orang orang yang sabar.

Dengan meneguhkan imannya, mereka terus menerus berjuang, sambil mendoa kepada Allah, agar Allah menetapkan ketabahan dan kesabaran mereka, agar Allah menolong dan memenangkan mereka juga akhirnya. Talut dengan segala kepandaian yang ada padanya, memimpin tentera yang tinggal sedikit itu, untuk mencapai kemenangan. Kemenangan, kemenangan sajalah yang menjadi fikirannya, lain tidak. Kemenangan yang harus dicapai dengan peperangan dan perlawanan hebat, bukan dengan menyerah kalah.

Kehebatan pertempuran dan beratnya beban yang dihadapi Talut dan tentera Bani Israel ketika itu, tersiar hampir ke seluruh bangsa Israel yang diam di belakang garis pertempuran. Khabar ini pun sampai ke telinga seorang desa yang sudah tua. Orang tua ini mempunyai beberapa orang anak. Dipilihnya tiga orang di antara anaknya yang terbesar, supaya datang kepadanya. Anak yang ketiga yang terpilih itu sebenarnya masih di bawah umur, masih dalam dunia kanak kanak, Daud namanya (Nabi Daud) Dia masih dalam usia 9 tahun saja.

Orang tua itu berkata kepada anak anaknya: “Ambillah pedang dan bekalanmu, berangkatlah sekarang juga ke medan perang, menolong saudara saudaramu melawan musuh. Adapun engkau ini, hai Daud, juga harus turut ke medan perang, tetapi kewajipanmu hanyalah untuk membawakan makanan dan di mana perlu, engkau pulang ke rumah untuk membawa khabar kepadaku tentang jalannya pertempuran.

Ketiga anak yang bersaudara ini, setelah mengucapkan selamat kepada bapanya yang sudah tua itu lalu berangkat menuju ke medan perang, untuk menggabungkan diri dengan tentera Talut.  Setelah sekian lamanya berjalan, mereka sampai di medan pertempuran dan segera menghadap Talut, untuk mendapat perkenan menggabungkan diri dengan tentera Talut.

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ﴿٢٥٠﴾

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” – (Surah Al-Baqarah, Ayat 250)

Alangkah bangga dan gembiranya hati Talut melihat semangat yang berkobar kobar dalam dada ketiga anak muda ini, ia bangga terhadap semangat orang tani di desa yang telah menyerahkan ketiga orang anaknya itu ke medan perang menghadapi bahaya. Pemuda yang dua orang itu segera mendapat izin untuk menyerbu, tetapi pemuda Daud tidak diperbolehkan, kerana dia masih di bawah umur, belum wajib baginya untuk maju ke depan, kepadanya hanya diperintahkan untuk membantu di garisan belakang saja.

Daud berubah betul semangatnya setiba dia di medan perang, melihat perang yang sedang berkobar dahsyat itu. Dia minta dengan sangat supaya diperbolehkan menyerbu.

Kau masih anak anak dan masih kecil, ya Daud, kata Talut kepada Daud. “Betul kata Daud menjawab, Tetapi janganlah terlalu melihat besar kecilnya badan seseorang. Saya sekalipun kecil, tetapi kekuatan badan saya sudah cukup untuk mengalahkan musuh, semangat dan jiwa saya cukup matang dan teguh menghadapi peperangan.

“Tuan belum tahu, kata Daud seterusnya:

Kelmarin seekor singa pernah menangkap kambingku; singa itu kulompati, lantas terjadi pergelutan hebat antara saya dengan singa itu. Akhirnya saya dapat mematahkan leher singa itu. Pada suatu hari saya pernah pula bertemu dengan se ekor beruang besar yang hendak menerkam kepadaku. Beruang dapat kupegang mulutnya, lalu kupatahkan lehernya sampai mati. Kekuatan dan keberanian, tidak bergantung pada umur dan besarnya badan,tetapi terletak pada kemahuan dan semangat yang teguh, keimanan yang sedalam dalamnya.

Melihat kepintaran dan susunan kata kata yang diucapkan oleh Daud itu, Talut hanya tertekun dan termenung. Dapat dirasakannya, bahawa memang ia seorang anak yang luar biasa, seorang yang sudah ditentukan oleh Tuhan menjadi seorang yang berani. Kepadanya lalu diberikan izin untuk bertempur, lantas kepadanya diserahkan tombak dan lembing. Tetapi kerana panjangnya tombak itu, sedang badannya sendiri demikian pendeknya, dia tidak dapat membawa tombak itu. Tombak dan lembing itu ditinggalkannya saja. Dia hanya membawa seutus tali dan beberapa buah batu yang berat.

Kepadanya Talut lalu berkata:

Di mana bisa engkau bertempur dengan tali dan batu itu, perang yang kita hadapi ini adalah perang tombak dan lembing?

Daud menjawab:

Tuhan telah dapat memeliharaku dari bahaya singa dan beruang dengan tali dan batu, pun akan menolong dan memeliharaku dalam perang ini dengan tali dan batu ini pula.

Daud maju ke medan perang, menyusur di antara masing- masing tentera yang sedang bermain pedang dan lembing itu. Satu satu musuh yang menghalangi gerak majunya, dapat dibunuhnya. Dia maju dan terus maju ke tempat pemimpin musuh, menuju kepada Jalut sendiri.

Dia berhasil mendekati kedudukan Jalut. Sebelum Jalut dapat memukulnya dengan pedang, Daud sudah lebih dahulu memukul Jalut dengan melemparkan batu sekuat kuatnya. Batu pertama  tepat mengenai kepala Jalut, disusulnya dengan batu kedua, batu ketiga, keempat dan seterusnya, sehingga Jalut mati seketika itu juga.

Dengan matinya Jalut, tentera musuh menjadi kucar kacir dan bertaburan. Akhirnya dapat dikalahkan seluruhnya oleh bangsa Bani Israel yang dipimpin oleh Talut. Bangsa Israel kembali hidup merdeka di tanahair sendiri, bertemu dengan anak isterinya yang sudah lama mereka tinggalkan.

ANTARA TALUT DENGAN NABI DAUD

Kerana Daudlah tercapainya kemenangan yang gilang gemilang, yang mempunyai erti dalam sejarah besar itu bagi Bani Israel. Dengan kemenangan ini, nama Daud menjadi harum semerbak di seluruh lapisan rakyat dan masyarakat, menjadi sebutan dan buah bibir, ditambah pula dengan sifat dan budinya yang suci. Kecintaan segala orang melekat pada diri Daud, kecintaan dan penghormatan yang semakin hari semakin hebat, bukan hanya terhadap keberanian dan sifatnya, tetapi segala gerak gerinya menjadi tambatan hati manusia sekelilingnya.

Yang paling tertanam cinta hatinya terhadap Daud, adalah Raja Talut sendiri. Talut belum puas kalau hanya menghormati dan memuliakan Daud, kalau hanya menerima nasihat dan petunjuk dari anak muda itu. Lebih dari itu semua, ia ingin menjadikan Daud anak menantunya sendiri, kerana Talut kebetulan mempunyai beberapa anak perempuan yang masih gadis pula. Yang tercantik dari anak gadisnya itu, ialah Mikyal namanya.

Daud lalu dikahwinkannya dengan anak gadisnya yang tercantik itu. Maka dengan perkahwinan ini, Daud menerima dua kemenangan, iaitu kemenangan dimedan perang dan kemenangan dalam perjuangan asmaranya pula. Dengan terjadinya perikatan ini, terikat eratlah dua kekuatan raksasa yang susah dihancurkan oleh musuh. Negara yang dipimpin oleh Talut semakin maju dan makmur, sedang tentera yang dipimpin oleh Daud, semakin kuat dan maju pula. Dalam pada itu perhatian orang terhadap diri Daud semakin hebat dan
memuncak juga, malah semakin bertambah, sejak dia menjadi menantu raja.

Beberapa waktu kemudian, pada suatu hari, Daud melihat perubahan pada diri Talut terhadap dirinya. Setiap kali dia berhadapan dengan Talut, dilihatnya muka Talut kusut dan masam saja. Kalau Talut berkata, kata katanya mulai memperlihatkan rasa yang tidak senang terhadap dirinya dan kalau Talut tersenyum, terasa ada kepahitan dalam senyumannya itu.

Daud sangat hairan melihat perubahan yang tiba tiba itu. Mulanya didiamkannya saja, dijadikannya barang simpanan dalam hati kecilnya, sambil dia melihat perkembangan selanjutnya. Tetapi ternyata kepadanya, bahawa perasaan Talut yang demikian itu, bukan perasaan yang hanya seketika, tetapi rupanya sudah menjadi isi hati yang tidak dapat dinyahkan lagi, malah perasaan benci dan dengkinya terhadap Daud semakin bertambah.

Daud merasa hairan, bukankah dia sendiri telah menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada rajanya dan bukankah dia sendiri dicintai dan sebagai menantunya pula? Apakah gerangan yang telah menyebabkan demikian rupa perubahan dalam hati Talut terhadap dirinya? Hal ini benar benar susah diteka dan dibayangkannya. Tetapi menjadi teka-teki yang paling ajaib, menjadi tanda tanya yang paling besar dalam kalbunva yang suci murni itu.

Keadaan semakin cerewet dalam pandangan Daud. Dia tidak tahan lagi untuk menyimpan teka-teki besar ini dalam dirinya. Dia ingin bertanyakan hal itu kepada isterinya, kalau kalau isterinya mengetahui akan duduknya perkara, sebab Daud percaya, bahawa isterinya tetap cinta dan kasih kepadanya, sebagai kecintaan dan kasih sayang dia terhadap isterinya itu.

Pada suatu hari, ketika Daud hanya berdua saja dengan isterinya di dalam sebuah kamar, Daud berkata kepada isterinya itu:

Ya Mikyal, isteriku yang tercinta. Saya tidak tahu, apakah saya ini tersalah dalam rabaan saya ataukah benar, apa betulkah apa yang saya rasakan ini, atau tidak betul, bahawa saya melihat perubahan besar perhatian bapa kita terhadap diriku seakan akan bapa kita menaruh perasaan yang tidak enak terhadap diriku ini. Bukan saja gerak geri dan kata katanya, tetapi juga pandangan matanya terhadapku selalu mengandung rasa benci dan curiga saja. Bagaimanakah pandanganmu terhadap hal yang kukemukakan ini?

Mikyal seorang wanita yang masih muda, sebagai anak yang tinggi pengetahuannya, baik budi dan dalam perasaannya, tentu tahu akan kewajipannya. Dia cinta kepada suaminya, tetapi perlu pula cinta dan hormat kepada orang tuanya sendiri. Bagaimanakah dayanya menghadapi dua hal yang saling berlawanan ini? Apakah akan bersembunyi sembunyi untuk menjaga kewajipannya terhadap bapa dan pula terhadap suaminya? Berat fikirannya sebelum menjawab pertanyaan suaminya itu. Tetapi ketulusan jiwa dan keikhlasan batinnya, memaksa dia untuk berterus terang apa yang dirasakan dan dilihatnya.

…/bersambung di siri 4 (akhir)


%d bloggers like this: