ALAM RUH MANUSIA DALAM AL QURAN


n-DEATH-628x314
Pada pembahasan materi keislaman berikutnya, saya ingin mencantumkan, menelaah, dan memberitahukan kabar dari Al-Qur’an yang telah Allah Swt mukjizatkan kepada Rasulullah Saw dengan menitik beratkan pembahasan pada subjudul “Perjalanan Setiap Manusia.”
 
Setiap orang tentunya harus mengetahui, bahwa perjalanan manusia itu telah terperinci, telah diskenario, dan telah dibimbing dalam Al-Qur’an. Semua awal kehidupan manusia adalah sama yaitu di mulai dari Alam ruh dan berakhir di Surga atau Neraka. Untuk lebih detailnya mari ikuti pembelajaran ini, mudah-mudahan bisa sangat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
 
Dan perlu diketahui dari awal bahwa saya membahas materi ini dengan merujuk pada Al-Quran, Al- Hadis, Tafsir Jalalain, Tafsir Al-Mishbah dan Ensiklopedia Islam serta berbagai buku lain yang bersangkutan dengan pembahasan materi ini. Sehingga materi ini dengan izin Allah Swt mudah-mudahan dijauhkan dari kekeliruan, walaupun manusia adalah tempatnya salah dan keliru, namun manusia bisa berusaha untuk menjadi lebih baik dan mengurangi setiap kekeliruan. Dan bahwa materi ini tidak akan selesai sampai akhir dalam satu bagian, materi ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian agar bisa membahasnya secara terperinci mengingat materi ini sangat penting bagi kehidupan manusia, dunia dan akhirat.
Maka dengan menyebut Bismillahirrahmanirrohim dan asma Allah materi ini dimulai untuk dibahas.
 
Seperti yang telah diberitahukan di awal bahwa setiap kehidupan manusia itu pertamanya ada di Alam Ruh, Apa yang dimaksud alam ruh itu? Alam ruh adalah suatu tempat yang dimana manusia itu semuanya dalam keadaan suci, alam gaib yang hanya Allah Swt yang tahu dan Allah yang menciptakan, tak ada makhluk Allah yang dapat menciptakan ruh ini. Firman Allah Swt dalam Al-Quran surah Al- A’raaf ayat 172:
 
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
 
Inilah Ayat yang menjelaskan tentang pertanyaan Allah kepada manusia saat manusia berada di alam ruh, Allah bertanya pada manusia yang masih dalam keadaan ruh itu atau lebih jelasnya yaitu meminta pengakuan manusia melalui potensi yang dianugerahi Allah Swt yaitu akal.
Allah Berfirman “Bukankah aku tuhan pemelihara kamu dan yang selalu berbuat baik kepadamu?” Ketika mereka ada di alam ruh mereka menjawab, ”Betul! Kami menyaksikan bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan menyaksikan pula bahwa Engkau Maha Esa” (M. Quraish Shihab).
 
Jika ditelaah maka manusia pada waktu itu (saat dalam keadaan Ruh/di alam ruh) semuanya dalam keadaan beriman dan bertakwa kepada Allah tanpa satupun dari mereka itu berkhianat kepada Allah. mengapa? Karena pada saat di alam ruh, manusia itu sesungguhnya masih dalam keadaan suci, sepertinya bayi yang dilahirkan oleh manusia, mereka dalam keadaan suci.
 
 
Juga firman Allah dalam surah Al- Hadid, ayat 8:
 
“ Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah Padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. dan Sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”
 
Yang dimaksud dengan perjanjianmu ialah Perjanjian ruh Bani Adam sebelum dilahirkan ke dunia bahwa Dia mengakui (naik saksi), bahwa Tuhan-nya ialah Allah, seperti tersebut dalam ayat 172 surat Al A´raaf.
 
Perjanjian yang dimaksud tiada lain adalah kesaksian dari Ruh manusia bahwa Allah adalah Tuhan manusia dan Allah adalah yang Maha Esa.
Al- Insan Ayat 1:
 
”Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.”
 
Surah ini mengingatkan manusia tentang kehadirannya di pentas bumi ini sekaligus menjelaskan tujuan penciptaanya. Allah berfirman, Bukankah yakni sungguh telah datang atas mereka satu waktu dari masa yakni sebelum ia diciptakan, sedang ia pada waktu itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Ketika itu ia dalam ketiadaan, jangankan wujudnya, namanya pun belum ada. Kemudian kami menciptakannya. (M. Quraish Shihab). 

KEHEBATAN AL-HADID (BESI) DALAM AL-QURAN


Memang menakjubkan, tampaknya, dalam pelajaran teologi, nama salah satu elemen kimia dalam jadual periodik, yaitu besi (Fe = ferrum) bisa menjadi salah satu judul surat dalam kitab suci agama. Dan hal ini diperdebatkan sebagai salah satu hal yang dianggap sebagai salah satu kelemahan Al-Qur’an. Tetapi itulah Al-Qur’an, dan apakah ini akan menjadi salah satu kelemahan, atau malah salah satu pesona yang tak terbantahkan dari Al-Qur’an? Sehingga pertanyaan bagi orang awam tentunya, karakter apa yang menarik pada surat ini? Lalu, mengapa besi dijadikan salah satu nama surat dalam Al-Qur’an? Bukankah emas, misalnya, adalah logam mulia yang lebih berharga?

Surat ini turun di antara masa-masa Perang Uhud, pada awal terbentuknya Negara Islam di Madinah. Oleh karena itu, bisa dipahami jika cukup banyak ayat yang memerintahkan pembaca untuk menafkahkan harta bagi kepentingan umum. Nama surat terambil dari kalimat wa anzalnal-hadida, ayat 25. Ayat seperti ini, menurut pandangan Malik Ben Nabi, laksana “kilauan anak panah” yang menarik perhatian bagi kaum berakal; yang diselipkan di antara pelajaran-pelajaran yang menyangkut ketuhanan.

 Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan/turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” Qur’an surah Al-Hadiid 57 : 25

Karakter pertama, yang menarik perhatian adalah banyak penafsir menghindari terjemahan wa ansalnal-hadida dengan “Kami ciptakan besi”, padahal secara intrinksik seharusnya. “Kami turunkan besi”, sebagaimana terjemahan “Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan mizan (keadilan, keseimbangan, keselarasan, kesepadanan)”. Mengapa demikian? Karena dalam bayangan mufasir klasik, bagaimana caranya besi diturunkan dari langit? Apakah dijatuhkan begitu saja?

Namun seiring dengan perkembangan waktu, pengetahuan manusia bertambah. Ilmuwan seperti Profesor Armstrong dari NASA atau Mohamed Asadi berpandangan bahwa “memang besi diturunkan dari langit”. Sains memberikan informasi kepada kita bahwa besi termasuk logam berat tidak dapat dihasilkan oleh bumi sendiri.

Energi sistem tata surya kita tidak cukup untuk memproduksi elemen besi. Perkiraan paling baik, energi yang dibutuhkan adalah empat kali energi sistem matahari kita, dengan demikian besi hanya dapat dihasilkan oleh suatu bintang yang jauh lebih besar daripada matahari, dengan suhu ratusan juta derajat Celsius. Kemudian meledak dahsyat sebagai nova atau supernova, dan hasilnya menyebar di angkasa sebagai meteorit yang mengandung besi, melayang di angkasa sampai tertarik oleh gravitasi bumi, di awal terbentuknya bumi miliaran tahun yang lalu.

Karakter kedua, ketika menjelaskan besi “memberikan kekuatan yang hebat” barangkali pembaca membayangkan senjata pemusnah sekelas ICBM, Intercontinental Ballistic Missile (peluru kendali antarbenua) atau senjata pemusnah massal seperti senjata kimia. Tetapi bukan hanya itu. Nikmat yang paling besar yang diberikan Tuhan kepada umat manusia adalah “desain bumi”. Bumi dan isinya dilindungi oleh Sabuk Van Allen yang membungkus bumi seolah-olah perisai berbentuk medan elektromagnetik berenergi tinggi. Perisai dengan “kekuatan hebat” ini tidak dimiliki oleh planet-planet lain.

Sabuk radiasi yang membentuk energi tinggi, terdiri dari proton dan elektron, mengelilingi ribuan kilometer di alas bumi, diberi nama Sabuk Van Allen. Sabuk ini melindungi bumi dan isinya dari ledakan dahsyat energi matahari yang terjadi setiap 11 tahun sekali yang disebut solar flares. Ledakan dahsyat ini bila tidak ditahan di angkasa dapat meluluh-lantakkan semua kehidupan di bumi, dengan kekuatan setara 100 juta bom atom Hiroshima. Perlindungan juga didapatkan dari serangan badai kosmis yang membahayakan umat manusia. Bagaimana sabuk perisai ini terbentuk? Sabuk ini terbentuk dari inti bumi yang besar, yaitu terdiri dari besi dan nikel. Keduanya membentuk medan magnet yang besar, yang tidak dimiliki oleh planet lain, kecuali planet Merkurius, dengan radiasi yang lebih lemah.

Barangkali kita sekarang paham mengapa besi menempati salah satu judul surat di dalam Al-Qur’an. Inti besi dan nikel “melindungi makhluk bumi” berupa perisai elektromagnetik dengan “kekuatan yang hebat”. Namun yang terpenting, Al-Qur’an ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa besi tidak dapat diproduksi di bumi. Oleh karena itu, ia langsung diturunkan dari langit untuk dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan ayat 25.

Harap pembaca juga memperhatikan kodetifikasi di alam raya, solar flares terjadi 11 tahun sekali. Metonic cycle 19 tahun sekali, komet Halley rata-rata 76 tahun sekali mendekati bumi, penyesuaian Kalender Lunar mengikuti siklus 11 tahun dan 19 tahun.

Elemen Berat Besi (Isotop Fe-57)

Karakter ketiga, berhubungan dengan elemen kimia dalam tabel periodik. Kita tidak mungkin menafsirkan Surat Besi tanpa “membedah” elemen kimia besi berikut karakterisistiknya, yang berhubungan dengan kata al- hadid. Tanpa mengenal sifat¬sifat besi, pembaca tidak akan mengetahui “keindahan” Surat Besi ini, yang diletakkan pada nomor 57.

___________________________________

Ahli astronomi moden berpendapat berpendapat bahawa besi berasal dari luar sistem suria (extra-terrestia) dan bukannya berasal dari perut bumi. Mereka berpendapat ia datang melalui meteorite (batu dari angkasa) yang jatuh ke bumi sejak dahulukala lagi. Menurut mereka lagi, adalah mustahil besi berasal dari bumi kerana tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan satu atom besi lebih kurang 4 kali lebih banyak daripada tenaga dalam sistem suria ini.

Besi adalah satu unsur yang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam surah al-Hadid, yang bermaksud besi, kita dikhabarkan;

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (25)

….Dan Kami telah menurunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia….Surah al-Hadid;25.

Perkataan ‘diturunkan’ khususnya digunakan untuk besi dalam ayat di atas difikirkan mempunyai satu pengertian metaforik untuk menerangkan bahawa besi diberikan untuk faedah kegunaan umat manusia. Tetapi apabila kita mempertimbangkan pengertian literalnya, perkataan ini akan bermaksud ‘secara fizikal diturunkan dari luar angkasa’, kita menyedari bahawa ayat ini menggambarkan satu keajaiban saintifik yang sangat-sangat signifikan.

Ini adalah kerana penemuan astronomi moden telah menyingkap bahawa besi yang wujud dalam dunia ini berasal dari bintang-bintang gergasi di luar angkasa.

Unsur-unsur berat dalam alam semesta adalah dihasilkan di dalam nuklid bintang besar. Sistem solar kita, bagaimanapun, tidak mempunyai struktur sesuai untuk menghasilkan besi baginya. Besi hanya dapat dihasilkan dalam bintang yang lebih besar daripada matahari, di mana suhu mencecah beratus juta darjah. Apabila amaun besi melebihi peringkat tertentu dalam sebuah bintang, bintang ini tidak dapat lagi menampungnya, dan akhirnya ia meletup dalam satu letupan yang dipanggil ‘nova’ atau ‘supernova’. Sebagai satu hasil dari letupan ini, meteor yang mengandungi besi berserakan ke seluruh alam semesta, dan mereka bergerak melalui ruang di angkasa sehingga ditarik oleh daya graviti sesuatu jasad di cakerawala.

Fenomena ini menunjukkan bahawa besi tidak dihasilkan di dalam bumi, tetapi dibawa dari bintang-bintang yang meletup dalam angkasa melalui meteor, dan telah ‘diturunkan ke dalam bumi’. Dalam cara yang persis dengan apa yang dinyatakan dalam ayat; ianya jelas bahawa fakta ini tidak dapat diketahui secara saintifik dalam abad ke 7, ketika Al-Qur’an diwahyukan.

Di samping itu, nilai perkataan besi dalam bahasa Arab ‘Al-Hadid’ ialah 57. Jumlah ini adalah sama dengan nombor surah Al-Hadid iaitu surah nombor 57. Satu keajaiban…

Nilai perkataan Hadid (besi) ialah 26. Nilai ini adalah sama dengan nombor atom bagi besi (ferum) iaitu 26.
_____________________________________________
Sumber:
1-http://www.tayibah.com/
2- https://mahmudshah.wordpress.com/2011/09/24/besi-ferum/

%d bloggers like this: