KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN


alquran-adalah-kitab-suci-yang-meliputi-semua-hal-yang-_140728203802-477

Al-quran adalah kitab umat Islam yang sungguh mulia dan agung. Didalamnya terdapat banyak sekali perkara-perkara kehidupan manusia, mulai dari Ilmu, hukum, etika, sejarah, dan masih banyak lagi.

Dengan membacanya, maka Allah akan memberikan banyak pahala serta kesejahteraan rohani dalam diri kita. Mungkin kita tidak menyadari, setiap lantunan ayat Al-quran yang keluar dari mulut yang membaca al-qur’an, maka malaikat berdoa kepada Allah agar mengampuni dosanya.

Di dalam Ensiklopedia Britanica disebutkan, bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang paling luas untuk dibaca di atas bumi ini. Berangkat dari sinilah datang berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul yang memerintahkan membaca dan menganjurkannya, telah disiapkan pahala yang melimpah dan agung karenanya. Membacanya dinilai Allah sebagai ibadah. Pahala yang dihitung bukan perkata atau perayat, namun perhuruf.Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف.

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka dia mendapatkan satu pahala, dan satu kebaikan itu berlipat sepuluh kebaikan yang serupa. Aku tidak mengatakan, ‘Alif lam mim satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf,”(Diriwayatkan At-Tirmidzy)

Jamaah yang dirahmati Allah swt…

Beberapa keutamaan membaca Al-qur’an adalah

  1. Manusia yang terbaik.

Dari `Utsman bin `Affan, dari Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” H.R. Bukhari.

  1. Dikumpulkan bersama para Malaikat.

Dari `Aisyah r.a. berkata, Rasulullah bersabda : “Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” Muttafaqun `Alaihi.

  1. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat.

Dari Abu Umamah Al Bahili berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda :

 “Bacalah Al Qur`an !, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).” H.R. Muslim.

  1. Kenikmatan tiada tara

Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : “Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.” Muttafaqun `Alaihi.

  1. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga

Dari Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. ” H.R. Abu Daud.

Jamaah yang dirahmati Allah swt…

Sedangkan  beberapa hikmah dan keajaiban ketika Kita membaca Al-quran, yaitu:

  1. Al-quran dapat membuat hati menjadi lebih sejuk. Allah swt. menurunkan Kitab-Nya yang abadi agar ia dibaca lisan, didengarkan telinga, dipikirkan akal dan agar hati menjadi tenang karenanya. Beban kehidupan serta aktivitas yang padat yang terus mengikat pikiran seakan lepas dan hilang begitu saja. Kehidupanpun menjadi lebih mantap dan terarah karena Al-quran mengajarkan Hikmah dan Ukhuwah.
  2. Al-quran obat hati yang paling mujarab.Ketika kita depresi, pikiran selalu terarah pada hutang-hutang yang menumpuk, deadline yang selalu menjempit waktu, atau kita stress sekalipun, dengan membaca Al-quran perlahan air sejuk sirami hati kita yang gundah. Aliran darah di otak kita seakan tanpa hambatan, bebas mengalir sehingga pikiran kita menjadi lebih jernih.
  3. Al-quran penyehat jasmani.Sebagian besar muslim tak menyadari bahkan terkesan acuh terhadap manfaat al-quran bagi kesehatan tubuh. Ketika mata kita menatap baris-baris ayat Al-quran, saat itu pula kinerja pupil dan retina menjadi ekstra lebih kuat dan tajam. Apalagi jika kita sangat menghayati dan menangis ketika membaca Al-quran, mata kita menjadi lebih segar dan bersih karena kotoran yang menempel pada kelopak ikut tersapu oleh air mata. Tak heran, orang yang sering baca Al-quran matanya lebih sehat ketimbang orang yang sering baca buku.

Ada beberapa penelitian yang mendukung keajaiban bacaan Al-qur’an ini:

  1. Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
  2. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur’an. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an.
  3. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Alquran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Alquran lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran juga bisa mempengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Maha benar Allah yang telah berfirman.

Source :

http://pinkqu.blogspot.co.id/2013/12/ceramah-keutamaan-membaca-al-quran.html

http://www.wajibbaca.com/2017/03/efek-baca-al-quran-rumah-wangi-dan.html

ALQURAN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT


Abu Umamah r.a. berkata : “Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya
kami semua mempelajari Al-Qur’an, setelah itu Rasulullah S.A.W
memberitahu tentang kelebihan Al-Qur’an.

Gambar-Al-Quran-8
Telah bersabda Rasulullah S.A.W :” Belajarlah kamu akan Al-Qur’an, di
akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang
sangat memerlukannya.”
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, ” Kenalkah
kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab :
“Siapakah kamu?”
Maka berkata Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan
juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di
waktu siang hari.”
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Adakah kamu
Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui orang yang pernah membaca
mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan
kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula, yang muslim diberi perhiasan yang tidak
dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya
bertanya : “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami
tidak sampai ini?”
Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari
Al-Qur’an.”

KALIMAH ALLAH BUKAN BERMAKNA ‘GOD’ SEMATA-MATA


Umum mengetahui, sensitiviti umat Islam amat tersentuh apabila kalimah Allah seakan dipermainkan. Kalimah Allah yang termaktub berulang kali di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah itu sesuatu yang tidak pernah dipertikaikan oleh umat Islam. Ia digelar sebagai ism al-zat iaitu kata nama yang melambangkan secara langsung zat Allah SWT yang Maha Agung. Ibn Qayyim al-Jauziyyah mengatakan bahawa nama Allah itu bersifat menyeluruh.

Oleh itu dengan nama tersebut disandarkan seluruh nama-nama-Nya (al-Asma’ al- Husna) yang lain. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah al-A‘raf ayat 180: “Dan bagi Allah, nama-nama yang Maha Baik”. Bagaimanapun, tidak dinafikan sesetengah agama juga mendakwa kalimah Allah sebagai panggilan kepada nama tuhan mereka. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru dan mengejutkan di dalam agama Islam. Malah al-Qur’an sendiri pernah merakamkan konflik ini sebagai iktibar dan pengajaran buat umat Islam dan bukan Islam.

Sebagai contoh, ketika surah al-Ikhlas diturunkan, ia membicarakan soal konflik tentang siapakah sebenarnya Allah yang dituturkan oleh agama-agama lain itu. Adakah ia tepat dan benar dengan konsep “Allah” sebagaimana yang digelar dan dipanggil oleh mereka? Imam Ibn Kathir menukilkan kata-kata ‘Ikrimah tentang perihal turunnya ayat ini. Berkata ‘Ikrimah: “Ketika orang Yahudi mengatakan: Kami menyembah ‘Uzair anak Allah. Orang Nasrani mengatakan: Kami menyembah al-Masih anak Allah. Majusi pula mengatakan: Kami menyembah matahari dan bulan. Orang musyrikin pula mengatakan: Kami menyembah berhala. Lalu Allah SWT menurunkan ke atas Rasulullah SAW surah al-Ikhlas yang bermaksud: Katakanlah wahai Muhammad bahawa Allah itu Esa, Allah itu tempat bergantung segala makhluk-Nya, Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan dan Allah itu tiada bagi-Nya sekutu”. Tidak mengira apa jua agama, sekiranya mereka tidak mengerti dan mengenal siapa itu Allah? Apakah makna sebenar di sebalik nama itu? Jika itu semua tidak diketahui dan dimengerti, maka mereka sekali-kali tidak layak untuk menggunakan kalimah Allah.

Bagi membincangkan lebih lanjut isu ini, penulis bentangkan di sini hujjah-hujjah yang menjelaskan apakah sebenarnya hakikat kalimah Allah SWT menurut pemikiran dan aqidah Islam. Apakah signifikannya Allah SWT menjadikan kalimah tersebut sebagai merujuk kepada zat-Nya Yang Maha Agung? Kalimah Allah menurut satu pendapat yang lemah ialah kata nama yang kaku (jamid). Iaitu bukan berbentuk kata terbitan yang berasal daripada kata dasar tertentu. Ini kerana sesuatu kata terbitan mesti mempunyai akar perkataannya yang tertentu. Sedangkan nama Allah SWT itu bersifat sediakala (qadim). Qadim pula ialah sesuatu yang tidak mempunyai unsur asas atau asal. Ia menyerupai kesemua kata-kata nama khas yang tidak mempunyai asal tertentu serta tidak mempunyai sebarang maksud di sebalik penamaannya.

Bagaimanapun pendapat yang benar, kata nama Allah itu ialah kata terbitan yang mempunyai kata dasar tertentu. Namun para ulama berbeza pandangan tentang asal kalimah Allah tersebut. Pendapat yang tepat ia berasal daripada kalimah alahaya’lahu-uluhatan-ilahatan-ilahiyyatan . Ia membawa maksud ‘abada-‘ibadatan  iaitu menyembah dan penyembahan. Daripada timbangan (wazan) ini lahirnya kalimah ilah yang bermaksud ma’luh iaitu “yang disembah” (ma‘bud). Berasaskan pendapat ini, Ibn ‘Abbas r.a. pernah berkata: “Allah yang memiliki (sifat) ketuhanan (al-ilahiyyah) dan kehambaan (al-‘ubudiyyah) ke atas seluruh makhluk-Nya”.

Di kalangan ahli nahu Arab termasyhur juga berpandangan sedemikian. Misalnya al- Kisa’i dan al-Farra’ mengatakan kalimah Allah itu berasal daripada kata al-ilah. Kemudian mereka membuang huruf hamzah dan menggabungkan (idgham) huruf lam yang pertama ke dalam huruf lam yang kedua. Kemudian terbentuk satu lamyang disabdukan (tasydid) dan dibaca dengan tebal dan berat. Ibn Qayyim al-Jauziyyah pula berkata: “Yang benar, kalimah Allah ialah kata yang mempunyai asal, di mana asal katanya ialah al-ilah. Ini sebagaimana pendapat ahli bahasa terkenal Sibawaih dan majoriti sahabatnya kecuali beberapa orang yang berpendapat meragukan (tanpa sebarang asas). Lafaz Allah mencakup seluruh makna al-Asma’ al-Husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi. Orang yang mengatakan bahawa ia adalah kata terbitan, mereka mahu menunjukkan kalimah Allah itu mengandungi makna sifat bagi Allah SWT. Iaitu alilahiyyah (ketuhanan) sebagaimana al-Asma’ al-Husna yang lainnya seperti al-Basir (Maha Melihat), al-Sami‘ (Maha Mendengar), al-Qadir (Maha Berkuasa), al-‘Alim (Maha Mengetahui) dan sebagainya.

Tidak diragukan lagi bahawa nama-nama ini merupakan terbitan daripada kata dasarnya sedangkan nama-nama tersebut kekal bersifat qadim. Maksud nama-nama tersebut ialah kata terbitan, iaitu dari segi lafaz dan maknanya yang bertemu dengan kata-kata dasarnya. Bukan bererti nama atau sifat itu lahir seumpama lahirnya cabang daripada asal. Penamaan ahli nahu terhadap kata dasar dan kata terbitan itu dengan asal dan cabang bukan bermaksud salah satu daripada keduanya lahir daripada yang lain, tetapi ia memberi makna salah satu daripada keduanya mengandungi yang lain malah terdapat penambahan”. Abu Ja’far ibn Jarir pula mengatakan: “Lafaz Allah itu berasal daripada kata al-ilah. Kemudian hamzahnya yang merupakan fa’ al-ism (iaitu sebutan dalam ilmu saraf bagi hamzah yang ada pada kata ilah, kerana wazan atau timbangan kata ilah adalah fi‘alun) digugurkan atau dibuang. Kemudian huruf lam yang merupakan ‘ain al-ism bertemu dengan lam tambahan yang barisnya mati, lalu masing-masing digabungkan kepada yang lain. Maka kedua-duanya menjadi satu lam yang disabdukan. Manakala takwilan (tafsiran) kalimah Allah pula ianya berasaskan apa yang diriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas r.a. bahawa “Dia lah (Allah) yang mempertuhankan-Nya segala sesuatu (ya’lahuhu kullu syai’in), dan yang disembahi oleh seluruh makhluk (ya‘buduhu kullu khalqin)”.

Diriwayatkan juga sebuah hadith daripada Abu Sa‘id secara marfu‘: “Bahawa Isa diserahkan oleh ibunya kepada seorang pengajar agar dapat mengajarnya menulis. Lalu si pengajar berkata kepadanya: Tulislah dengan nama Allah. Isa berkata: Tahukah kamu siapa itu Allah? Allah ialah Tuhan bagi segala yang dipertuhankan”. Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam menerangkan keistimewaan nama Allah menyebut: “Nama yang mulia ini memiliki sepuluh karakteristik lafaz… tentang karateristik maknawinya, makhluk Allah yang paling berilmu, iaitu Rasulullah SAW bersabda: Aku tidak dapat memuji Engkau sepenuh dan sesempurna yang semestinya. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu (selesai sabda). Ibn Qayyim kemudiannya menjelaskan lagi bahawa penamaan Allah itu menunjukkan bahawa Dia (Allah) adalah sebagai Yang dipertuhankan dan disembah. Dipertuhankan oleh semua makhluk dengan penuh kecintaan, pengagungan, ketundukan dan berlindung kepada-Nya dalam semua hajat dan musibah yang menimpa.

Inilah sebenarnya maksud di sebalik kalimah Allah SWT. Ia bukanlah satu kalimah yang sekadar menjadi sebutan atau seruan atau panggilan bagi tuhan semata-mata. Sebaliknya ia merupakan nama yang melambangkan aqidah atau agama bagi orang yang menggunakannya. Oleh itu penggunaannya amat wajar dipantau dan dipelihara oleh kerajaan demi memastikan tiada sesiapa yang terkeliru dengan nama Yang Maha Agung itu.

Oleh itu keputusan kerajaan untuk mengekalkan larangan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan bukan Islam, sebagaimana yang telah diputuskan di dalam mesyuarat Jemaah Menteri pada 18 Oktober dan 1 November 2006 adalah amat bertepatan dan tidak boleh dipertikaikan sama sekali. Malah penggunaan kalimah Allah, Baitullah, Solat dan Kaabah telah pun diwartakan hanya eksklusif buat umat Islam sahaja di bawah Warta PU (A) 15/82 dan pekeliling KKDN. S.59/3/6/A bertarikh 5hb Disember 1986.

Sumber, Cawangan Aqidah
Bah. Penyelidikan JAKIM

%d bloggers like this: